DUNIA

Senin, 15 Januari 2018 | 22:18 WIB

Pangeran Qatar Ngaku Ditahan di UEA

Pangeran Qatar Ngaku Ditahan di UEA
Seorang pangeran Qatar, Syeikh Abdullah bin Ali al-Thani (Foto: BBC)

INILAHCOM, Doha -- Seorang pangeran Qatar, Syeikh Abdullah bin Ali al-Thani, mengaku telah ditahan secara paksa di Uni Emirat Arab (UEA).

Abdullah yang berperan penting dalam perundingan antara Qatar dan Arab Saudi saat krisis diplomatik tahun 2017 melontarkan tuduhan itu dalam video yang diunggah ke ke YouTube, Minggu (14/01), seperti dikutip dari BBC, Senin (15/01).

Abdullah menyebut ia ditahan secara semena-mena oleh Diwan atau otoritas independen di bawah pimpinan UEA.

Pemerintah UEA membantah tudingan tersebut.

Dalam video pernyataannya, Abdullah yang merupakan saudara orang nomor satu Qatar, Syeikh Tamim bin Hamad Al Thani, duduk di kursi sofa, berbicara di depan kamera.

"Saya sedang berada di Abu Dhabi, disambut Syekh Mohamed. Namun ini bukanlah penyambutan tamu biasa, melainkan sebuah penahanan. Mereka meminta saya untuk tidak ke mana-mana," ujar Abdullah.

Syeikh yang dimaksud adalah Mohammed bin Zayed, pemimpin de facto UEA.

Abdullah berkata, "Saya ingin mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu pada diri saya, Qatar tidak dapat dipersalahkan."

Video yang diunggah di YouTube itu disiarkan oleh situs berita milik Emirat, UAE 71.

Ali Rashid al-Nuaimi, kepala pusat pendidikan dan penanggulangan ekstremisme Uni Emirat Arab, kemudian mencuitkan sejumlah status di akun Twitter miliknya.

Ali mengatakan, Abdullah bebas berpergian ke berbagai tempat.

Sebelumnya, Abdullah melanggar kesepakatan antara Qatar dan Arab Saudi karena mempersilakan calon haji dari negaranya masuk ke Arab Saudi. Padahal, Arab Saudi dan sejumlah negara lain telah memutus hubungan diplomatik dengan Qatar, Juni 2017.

Kejadian yang menimpa Syekh Abdullah itu merupakan titik balik dari perannya yang vital dan tidak terduga dalam perseteruan antara Arab Saudi dan UEA dengan Qatar.

Diplomasi yang dijajaki Abdullah disebut sejumlah pihak berhasil meyakinkan Arab Saudi untuk membuka perbatasan dengan Qatar. Warga Qatar setelah itu kembali dapat melakukan perjalanan haji ke negara tersebut.

Ia berstatus keturunan pendiri Qatar, namun garis keturunan dari keluarga mereka dikesampingkan selama beberapa dekade terakhir.

Namun belakangan ini dia terlihat dalam berbagai peristiwa dan memiliki banyak pengikut di Twitter.

Pro dan kontra pun muncul bahwa mayoritas tindakan Abdullah didasarkan pada dukungan UEA dan Arab Saudi. Spekulasi lain menyebut dua negara itu tengah mempertimbangkan Abdullah sebagai pemimpin baru Qatar. [bbc/lat]

#pangeran #qatar #ditahan #UEA
BERITA TERKAIT
Sehari Najib Razak Belanja Rp 11 Miliar
Kabinet Baru Thailand Dilantik, Militer Tetap Kuat
Hamas Bantah Ingin Bantai Yahudi di Dunia
Ratu Penipu Hollywood Kirim Korban ke Jakarta
Polisi Italia Gerebek Kelompok Neo-Nazi
Ditemukan Lagi Kuburan Massal di Suriah
Gedung Putih Blokir Suaka bagi Migran

kembali ke atas