EKONOMI

Jumat, 02 Februari 2018 | 12:45 WIB

Pakar: Benahi Infrastruktur & Industri Dirgantara

Pakar: Benahi Infrastruktur & Industri Dirgantara
Pakar kedirgantaraan Henry Tedjadharma (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi bisnis airlines. Sayangnya, ketersediaan infrastruktur dan iklim bisnis penerbangan masih memprihatinkan.

Hal itu disampaikan pakar kedirgantaraan Henry Tedjadharma kepada wartawan di Jakarta, Kamis (1/2/2018). Infrastruktur dan bisnis penerbangan di tanah air, perlu degera dibenahi. Karena, tidak hanya menghambat peluang bisnis, kondisi penerbangan saat ini juga masih rawan accident yang dapat merugikan masyarakat sebagai konsumen moda transportasi udara.

Di tengah hiruk pikuk mudik Lebaran, papar Henry, ada kejadian di dunia penerbangan yang luput dari perhatian masyarakat. Pada malam hari 18 Juni 2017, sesuai instruksi petugas ATC pilot Garuda harus melakukan go-around atau kembali terbang pada saat final approach sudah siap landing.

"Keadaan ini membuat panik penumpang di dalamnya. Hal itu harus dilakukan untuk menghindari tabrakan di Bandara Soetta karena pesawat Sriwijaya Air yang gagal take-off akibat persoalan teknis dan terhenti di landas pacu," paparnya.

Masalah lain, lanjutnya, adalah pengawasan narkoba. Kendati BNN terus melakukan akan tetapi tidak membuat jera awak pesawat. Pilot maskapai berkali-kali diamankan polisi saat sedang mengonsumsi narkoba bahkan seorang captain yang hendak terbang diturunkan dari cockpit pesawat karena didapati dalam keadaan mabuk berat.

Contoh masalah lain adalah permukaan landas pacu (overlay) di Halim Perdana Kusuma Jakarta terkelupas selebar 32 meter sedalam 25 cm setelah Boeing B777-300ER milik Garuda lepas landas pada siang 28 Juli 2017.

"Hal yang membahayakan pesawat yang sedang lepas landas, dan juga pesawat lain yang akan mendarat tersebut terjadi karena kekuatan landas pacu tidak mampu menahan beban pesawat. Seharusnya, sebelum pesawat beroperasi semua persyaratan operasional sudah diverifikasi," ungkap Henry.

Runway incursion yang mengakibatkan accident (ground collision) seperti yang terjadi pada malam 04 April 2016 di Halim Perdana Kusuma, antara B737-800 Batik Air dengan ATR42 Trans Nusa, terualang di Bandara Kualanamu Medan pada siang hari 03 Agustus 2017, antara pesawat Lion Air B737-900ER dengan Wing Air ATR-72.

Di mana, pesawat B737-800 no reg. 9V-MGG milik Silk Air yang baru mendarat dan parkir di apron Bandara Kualanamu, ditabrak service truk pada sabtu pagi 23 Desember 2017. Akibatnya, perut pesawat robek dan dilarang terbang.

Musibah juga menimpa sembilan penumpang yang sedang boarding menaiki tangga pesawat Batik Air 6356 di apron 3 bandara Ahmad Yani Semarang jatuh terhempas akibat terkena Jetblast dari mesin pesawat Garuda GA365 pada Senin siang 09 Oktober 2017.

Contoh-contoh di atas, lanjut Henry, tidak bisa dipandang sebagai hal kecil. Banyak persoalan pada industri penerbangan mulai dari kapasitas dan fasilitas bandara khususnya pada sisi airside, navigasi, hingga keterbatasan SDM pada berbagai stakesholder perlu dibenahi secara sistematis. [tar]

#Garuda #MenhubBudi #Infrastruktur #Maskapai
BERITA TERKAIT
Tol Solo-Ngawi Siap Dijajal Jokowi
(Empat Bulan Kosong) Akhirnya Indonesia Milik Dirjen Perhubungan Udara
Infrastruktur 10 Destinasi Wisata, Aussie Dilirik
Disupiri Bankir, Rini Rasakan Tol Trans Jawa
Menhub Budi Tunjuk Dirjen Perhubungan Udara Anyar
Nasib Lion Air, Menteri Budi Menunggu Black Box
(Peringati HKN 2018) Industri Air Perpipaan Kampanye Bahaya Air Tanah

ke atas