EKONOMI

Jumat, 09 Februari 2018 | 17:09 WIB

Infid: Ketimpangan Sosial RI Paling Oligarkis

Indra Hendriana
Infid: Ketimpangan Sosial RI Paling Oligarkis
Peneliti International NGO Forum on Indonesia Development (Infid) Bagus Takwin (Foto: Istimewa)
INILAHCOM, Jakarta - Persepsi masyarakat terkait ketimpangan sosial hampir menempati urutan buncit dengan negara-negara lain. Indonesia menempati urutan ke-6 apabila dihitung dari yang paling tinggi.

"Kita (Indonesia) peringkat keenam dari bawah (terkait ketimpangan sosial). Kalau di kesejahteraan, paling tinggi Rusia, kita oligarkinya kuat. Kita nomer enam dari bawah paling timpang. Amerika juga tinggi," kata Peneliti International NGO Forum on Indonesia Development (Infid) Bagus Takwin di kawasan Menteng, Jakarta, baru-baru ini.

Hal tersebut disebabkan naiknya persepsi masyarakat terhadap ketimpangan sosial tahun 2017 ini. Menurut dia, ketimpangam sosial Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Hal ini diindikasikan dari beberapa faktor. Salah satunya, masalah ekonomi yang berhubungan dengan pendapatan.

"Sebetulnya dari tahun 2014-2015 cenderung naik sedikit, 2015-2016 itu turun. Jadi ketimpangan lebih sedikit alias turun. Tapi sekarang nih naik lagi. Nah, itu banyak penjelasan yang bisa diberikan. Mungkin ekonomi tak bergerak, investasi tak bertambah, lapangan juga tak bertambah, jadi penghasilan makin kurang," ujar dia.

Namun begitu, kata dia, disisi lain banyak juga yang punya banyak kesempatan lapangan kerja dan bekerja lebih bagus.

Hasilnya lebih baik, gaji lebih baik. Punya kepemilikan rumah lebih baik dari yang lain," kata dia.

Bagus menambahkan, hasil survei ini tentu akan direkomendasikan ke pemerintah. Tujuannya agar angka itu bisa ditekan.


Adapun dalam hasil suveinya, Infid menyebut indikator persepsi yang menjadi sumber persepsi ketimpangan sosial masyarakat Indonesia tahun 2017 naik apabila dibandingkan dengan tahun 2016 lalu.

Di tahun 2017 ini ada 5-6 indikator yang menjadi sumber ketimpangan sosial. Sedangkan tahun 2016 lalu hanya ada 4-5 indikator saja.

Adapun 5-6 indikator itu antara lain adalah, di sektor penghasilan ada 71,1% persepsi masyarakat yang merasakan ketimpangan dengan yang lainnya, sektor Pekerjaan ada 62,6%, sektor rumah/tempat tinggal 61,2%, sektor harta benda 59,4%, sektor Kesejahteraan keluarga 56,6%, dan pendidikan 54%.

Survei dilakukan kepada 2.250 responden yang tersebar di 34 Provinsi. Metode survei dengan multistep rundom sampling dengan margin error 0,5.

Ketimpangan sosial ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mulai Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Jawa-Bali dan Indonesia Timur.

Sedangkan perbandigan total jenis ketimpangan di Sumatera, pada tahun 2017 berada diangka 5,36 atau lebih besar dari tahun 2016 yang berada di angka 4,52.

Sulawesi, pada tahun 2017 berada diangka 4,35 atau lebih besar dari tahun 2016 yang berada di angka 3,76. Kalimantan, pada tahun 2017 berada diangka 5,12 atau lebih besar dari tahun 2016 yang berada di angka 4,39.

Jawa-Bali pada tahun 2017 berada diangka 5,27 atau lebih besar dari tahun 2016 yang berada di angka 3,91. Dan di wilayah Indonesia Timur pada tahun 2017 berada diangka 6,57 atau lebih besar dari tahun 2016 yang berada di angka 5,15. [jin]
#KetimpanganSosial #Infid
BERITA TERKAIT
Pemerintah Benahi Kawasan Wisata Labuhan Bajo
Kazakhstan, Delegasi Asian Games Pertama ke Smesco
Tahun Depan Utang Jatuh Tempo Capai Rp409 T
Alsintan Tekan Biaya Olah Tanah Cabai Hingga 90%
BMKG: Lombok NTB Masih Terjadi Gempa Susulan
Ini Total Kebarakan Hutan di Riau per Agustus 2018
PT Pertamina EP Garap Cadangan Minyak di Banggai

ke atas