MOZAIK

Senin, 12 Maret 2018 | 12:00 WIB

Cuka Turunan Alkohol, Halalkah Dikonsumsi?

Cuka Turunan Alkohol, Halalkah Dikonsumsi?
(Foto: ilustrasi)

SEGELINTIR orang bertanya mengenai kehalalan cuka, yang dalam bahasa Inggris disebut vinegar, dalam bahasa kimianya disebut asam asetat. Apakah vinegar atau cuka ini dihukumi halal ataukah haram? Di antara alasan yang mengharamkan vinegar ini karena merupakan turunan dari alkohol.

Cuka atau vinegar asalnya dihukumi halal. Allah Taala berfirman, Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu (QS. Al-Baqarah : 57).

Cuka termasuk makanan yang thoyyib (baik). Tidak ada dalil yang mengharamkan cuka sehingga cuka dihukumi halal sebagaimana asalnya. Dalil yang mendukung cuka adalah makanan yang thoyyib adalah hadits dari Aisyah berikut, di mana Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik bumbu dan lauk adalah cuka (HR. Muslim no. 2051).

Juga ada hadits dari Jabir bin Abdillah, ia berkata bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bertanya kepada keluarganya tentang lauk. Mereka lantas menjawab bahwa tidak di sisi mereka selain cuka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu bersabda, Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka. (HR. Muslim no. 2052).

Ada beberapa rincian hukum cuka dari mana cuka berasal sebagai berikut:

1- Jika cuka berasal dari khomr (segala sesuatu yang memabukkan), lalu diolah dengan tangan manusia menjadi cuka, maka tidaklah halal. Hadits yang mendukung hal ini,

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Abu Tholhah pernah bertanya pada Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai anak yatim yang diwarisi khomr. Lantas beliau katakan, Musnahkan khomr tersebut. Lalu Abu Tholhah bertanya, Bolehkah aku mengolahnya menjadi cuka? Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Tidak boleh. (HR. Abu Daud no. 3675. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ini adalah penjelasan yang amat jelas bahwa khomr jika diolah menjadi cuka (dengan tangan manusia), maka itu tidak dibolehkan. Jika hal itu dibolehkan, maka tentu harta anak yatim lebih pantas untuk diperlakukan seperti itu karena harta mereka sudah sepantasnya dijaga, dikembangkan dan diperhatikan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melarang membuang-buang harta. Jika diperintah untuk dimusnahkan berarti yang dimaksud adalah membuang-buang harta. Maka sudah dimaklumi bahwa mengolah khomr menjadi cuka tidak membuat khomr tersebut jadi suci.

2- Jika khomr berubah dari cuka dengan sendiri (secara alami). Maka ini kembali ke hukum asal cuka yang telah diulas, yaitu suci dan halal. Imam Malik rahimahullah sampai-sampai mengatakan, Aku tidak suka seorang muslim mewariskan khomr lantas khomr tersebut diolah (dengan tangan) lantas menjadi cuka. Namun jika khomr tersebut menjadi cuka dengan sendirinya, maka tidak mengapa untuk disantap.

3- Jika cuka bukan aslinya dari khomr, maka tidak ada masalah. Seperti yang kita lihat dari proses saat ini yang berlaku, cuka (asam asetat) diproduksi bukan dari khomr, tetapi dari proses fermentasi tetes tebu, yang diolah menjadi alkohol, lalu aldehid dan menjadi asam asetat.

Silakan lihat pembagian di atas dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 22: 121 dan Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 113941. Semoga Allah beri hidayah dan menjadi ilmu yang bermanfaat. [rumaysho]

#Alkohol #Khamar #Cuka #Hadis #Haram #Vinegar
BERITA TERKAIT
Mengingat Kebaikan Orang Lain
Petuah Para Tetua tentang Mengubah Nasib
Pandai Melihat Dosa Sendiri
Gigi Bukan Aurat, Maka Tersenyumlah!
Bersyukur tak Cukup Hanya Diucapkan
Masih saja ada yang Menanyakan Keberadaan Tuhan
Puasa Daud: Puasa Sunah Paling Utama dan Istimewa

ke atas