EKONOMI

Selasa, 13 Maret 2018 | 05:09 WIB

Proyek BIBU Batal? Menko Luhut Beri Klarifikasi

Indra Hendriana
Proyek BIBU Batal? Menko Luhut Beri Klarifikasi
Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Terkait kabar tentang pembatalan proyek Bandara Internasional Bali Utara (BIBU), atau Bandara Buleleng, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memberikan klarifikasi. Singkat saja penjelasannya.

Kepada wartawan di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Senin (12/3/2018), Luhut menyatakan tidak pernah mengeluarkan kata-kata pembatalan pembangunan BIBU. Enggak pernah bilang pembatalan saya, kata Luhut.

Menurut Luhut, belum terealisasinya pembangunan Bandar Udara Buleleng, lantaran adanya studi dari World Bank. Studi dari Word Bank belum merekomendasikan pembangunan bandara di utara (Bali), ujar Luhut.

Sebelumnya, Luhut pernah menyampaikan bahwa pembangunan Bandara Buleleng belum bisa direalisasikan lantaran beberapa alasan.Pertama, kesulitan membangun akses kereta api. "Tidak elok membuat kereta api lingkar Bali, tapi jalan memotong gunung dan tol. Kemudian ada pantai kiri kanan, sehingga terbuka satu," ujarnya.

Kedua, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan Bandara Internasional Ngurah Rai. Menurut Luhut, pemerintakan akan membuat runway tambahan di Ngurah Rai.

Ketiga, pemerintah akan memperbanyak tempat parkir pesawat di Bandara Ngurah Rai. Dan keempat, pemerintah akan membangun jalur kapal Roro dari Pelabuhan Banyuwangi ke Bali Utara.

Gubernur Bali, Made Mangku Pastika meyakini bahwa pembatalan Bandara Buleleng belum final. Pihaknya mengaku sudah mendapat konfirmasi dari Presiden Joko Widodo, bahwa tidak ada pembatalan rencana pembangunan bandara tersebut.

Pastika sangat menyayangkan hasil kajian sementara dari World Bank (Bank Dunia) yang dinilai menyudutkan proyek BIBU. Anehnya, Bank Dunia malah merekomendasikan pembangunan jalan tol dengan membelah gunung di Bali.

World Bank, kata Pastika, seharusnya mendengarkan pandangan dari pemerintah daerah di Bali dalam penyusunan hasil kajiannya. Apalagi terkait pembangunan infrastruktur di Bali yang perlu mempertimbangkan faktor non-teknis. Misalnya, membangun jalan tol dengan membelah gunung apakah sudah sesuai dengan aspek budaya Bali.

"Pelebaran jalan saja tidak mudah dilakukan di Bali. Mungkin mereka belum memahami Bali. Ada aspek non-teknis yang dipertimbangkan. Hal-hal seperti ini yang akan kami sampaikan kepada tim kajian World Bank tersebut," ujar Pastika.

Pembangunan bandara di Buleleng, dinilai Pastika, sangat penting untuk mengatasi ketimpangan pembangunan Bali utara dengan Bali selatan. Ketimpangan pembangunan ini terkorelasi langsung dengan ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat Bali selatan dan Bali utara. "Untuk mengatasi ketimpangan pembangunan itu ya, harus bangun infrastruktur. Salah satunya membangun bandara internasional di Bali utara," tegasnya. [ipe]

#BandaraBuleleng #MenkoLuhut #PemprovBali #BIBU
BERITA TERKAIT
Disebut Hidup dari Utang, Menko Luhut tak Terima
525 Tahun Tabanan, Pesta di Lumbung Beras Bali
(Dari Arena PEF 2018) Menko Luhut Ingin Pengembangan EBT Tancap Gas
Stok Daging di Jakarta Aman Sampai Tahun Depan
Ini Alasan Dana Bantuan Bagi PKH di 2019 Naik
Proyek KA Cepat Jakarta-Bandung Tersendat Lahan
DPRD Banten Miriskan Proyek Jagung Bermasalah

ke atas