EKONOMI

Selasa, 13 Maret 2018 | 21:01 WIB

Skema Gross Split Pikat Invenstor AS

Indra Hendriana
Skema Gross Split Pikat Invenstor AS
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Archandra Tahar (Foto: inilahcom)
INILAHCOM, Jakarta - Sejumlah pengusaha di Amerika Serikat (AS) dikatakan terpikat dengan skema fiskal Production Sharing Contract (PSC) Gross Split. Adapun skema ini baru diterapkan di pengelolaan wilayah kerja minyak.

Demikian disampaikan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Archandra Tahar usai melakukan kunjungan kerja dan berdiskusi dengan perusahaan minyak di Amerika Serikat yakni Conoco Philips, British Petroleum (BP), Exxon, dan Murphy Oil Corporation.

Menurut dia, dengan antusian ini kedepan diharapkan investasi di Indonesia akan meningkat. Sebab, skema ini disambit baik oleh para pengusaha.

"Mereka berulang kali mengatakan apresiasi langkah pemerintah indonesia untuk mempersingkat proses bisnis lewat gross split," kata Archandra di Kantor ESDM Jakarta, Selasa (14/3/2018).

Archandra menjelaskan pertemuan dengan sejumlah perusahaan minyak di AS ini merupakan langkah lanjutan dari upaya pemerintah Indonesia untuk terus meningkatkan investasi di sektor migas secara nasional.

"CEO Murphy juga akan mereview kembali portofolio investasi mereka, termasuk penawaran 26 wilayah kerja yang baru di buka di Indonesia. Ini adalah langkah positif mengingat Murphy telah keluar dari investasi di Indonesia pada 2015 lalu," kata Arcandra.

Lalu pada pertemuan dengan BP, COO BP North America, William Lin, menyatakan dengan advanced technology BP tertarik untuk melihat potensi 26 wilayah kerja yang telah dilelang pada Februari lalu.

BP juga menunjukkan value creation dari investasi mereka sebesar USD1 triliun untuk pengembangan digital technology, high performance computing center, dan menjadikan support pengembangan bisnis BP.

"Dengan gross split investor akan memperoleh kepastian karena pembaguan split dilakukan secara transparan dan terukur. Parameter jelas yaitu ditentukan berdasarkan karakteristik lapangan serta kompleksitas pengembangan dan produksi," ujar Arcandra.

Skema gross split juga menciptakan efisiensi baik kepada pemerintah maupun investor. Karena biaya pengembangan blok menjadi tanggungjawab investor, maka investor harus mampu mengelola pembiayaan secara mandiri agar investasinya mendapatkan hasil optimal. Pemerintah juga tidak perlu mengeluarkan dana dari APBN untuk membiayai produksi migas.

"Gross split menciptakan kesederhanaan dari aspek persetujuan penganggaran, pengadaan, serta akuntabilitas. Pemerintah juga tidak perlu membuang banyak tenaga untuk melakukan pengawasan anggaran," ujarnya. [hid]
#ReformasiMigas #InvestasiMigas #SkemaGrossSplit
BERITA TERKAIT
Blok Cepo Jadi Andalan Produksi Minyak
Apapun Teknologinya, Asal Produksi Migas Naik
Survei UGM: Rokok Ilegal 2018 Turun Menjadi 7,04%
Pertamina harus Garap Blok Migas Tak Laku
Pengurasan Endapan Minyak masih Minim
Masalah Impor Beras, Tunggu Data BPS
Pertamina EP Donggi-Matindok Lampaui Target

ke atas