MOZAIK

Sabtu, 17 Maret 2018 | 08:00 WIB

Menahan Lapar Untuk Memuliakan Tamu

Menahan Lapar Untuk Memuliakan Tamu
(Foto: ilustrasi)

RASULULLAH sedang berkumpul bersama para sahabat saat ada seorang yang kelaparan datang berkunjung. Rasulullah pun bertanya kepada istrinya, apakah ada makanan yang bisa mereka hidangkan untuk tamu tersebut. Karena sedang tidak memiliki persediaan makanan, beliau menawarkan kepada para sahabat apakah ada yang bersedia menjamu sang tamu. Kemudian, salah satu sahabat dari kalangan Anshor berdiri sambil menjawab bahwa ia bersedia. Setelah itu, orang Anshor tersebut pun pergi menuju rumahnya bersama sang tamu.

Beristirahatlah dulu, saudara. Aku akan meminta istriku menyiapkan makanan, ucap sang Anshor mempersilakan tamu tersebut.

Terima kasih. Semoga Allah swt. membalas semua kebaikanmu dan memuliakanmu.

Di belakang, sang Anshor berkata pada istrinya. Aku membawa tamu Rasulullah. Aku sungguh ingin menjamunya dengan baik. Apa kau menyimpan makanan?

Istrinya menjawab, Demi Allah kita tidak mempunyai banyak makanan. Mungkin hanya cukup untuk makan anak-anak.

Kalau begitu, tidurkan dulu anak-anak. Setelah itu, sementara kau memasak, aku akan mengajaknya berbincang. Aku minta tolong agar nanti kau memadamkan lampu saat menghidangkan makanan tersebut. Dengan demikian ia tidak akan tahu bahwa kita tidak punya makanan lagi.

Tapi bukankah kita harus menghormati tamu dengan menemaninya makan? Tanya sang istri.

Benar. Aku akan berpura-pura mengunyah makanan. Ia tidak akan tahu karena ruangan gelap. Katakana juga bahwa kau nanti akan pergi memperbaiki lampu.

Istrinya mengangguk mengerti. Dan pada malam itu, demi sang tamu, keluarga Anshor tersebut pun menahan lapar. Kejadian yang mulia ini lalu diabadikan oleh Allah swt melalui firmannya berikut:

Dan orang-orang (Anshor) yang telah menempati Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Al Hasyr: 9)

Rasulullah pun menyampaikan penghargaan Allah swt atas apa yang dilakukannya. Sang Anshor pun sangat bahagia, karena apa yang ia lakukan telah mendapat ridha dari Alla swt. [An Nisaa Gettar]

#Tamu #MemuliakanTamu
BERITA TERKAIT
Semangat Memberi Makan, Minum dan Pakaian
Yuk, Praktikkan Adab ke Masjid!
Tradisi Jahiliah yang Masih Dilakukan Hingga Kini
Pentingnya Belajar Hukum terkait Jual Beli
Lima Syarat Orang yang Diizinkan Lakukan Jual Beli
Jual Beli Salib bagi Orang Muslim
Bolehkah Bayar Utang Berbeda Mata Uang?

kembali ke atas