MOZAIK

Jumat, 13 April 2018 | 21:00 WIB
(Syair)

Mengeluh dan Mengaduh

Mengeluh dan Mengaduh
(Foto: ilustrasi)

Kubangun rumah hidupku dari batu, bata, kayu, bambu, tanah air,
tumpah darah, merah putih, biru, kuning, hijau, semua warna. Ada
dana pemerintah, ada bantuan luar negri, juga barang tentu modal
pertama orangtua. Hidup ini kubangun sendiri, kubentuk coraknya.

Sekaligus majikan dan pembantu, istana dan gudang. Ada botol kosong
dan separuh penuh. Ada gelas jatuh, piring pecah, pena patah.Tak
terhitung kutu dan debu, pakaian, majalah, "an berserakan. Makanan
sembarangan. Suara, bunyi, dari tiap sudut, meledak, berteriak,

mengeluh, mengaduh atau nyanyi mendambakan waktu. Ada dipan
lusuh tempat kerja dan istirah. Buku yang tengah dan setengah kubaca
dan yang tak pernah terbuka halaman-halamannya. Tetap gelap, tak

tertangkap sebab jendela pikiran terbuka ke segala arah sedang lampu
menyala, membakar umur. Yang tidur tak bangun karena adzan dan
ayam berkokok. Bikin rumah harus pasang tiang iman yang pokok.

[Wing Kardjo]

#Syair #Puisi #Religi
BERITA TERKAIT
Hati-hatilah Pada Dunia dan Wanita
Akhlak Bidadari Surga
Cinta Bukan Liontin Hati yang Bisa Kau Hadiahkan
Tiada Lagi Senyum yang Menghias dii Bibir
Ayo Tinggalkan! Dusta Mengantarkan Pada Kejahatan
Pesan Perdamaian untuk para Politikus
Sholat Sebagai Pokok Agama

ke atas