MOZAIK

Senin, 16 April 2018 | 21:00 WIB
(Syair)

Pinjaman Mimpi

Pinjaman Mimpi
(Foto: Ilustrasi)

Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau
lupa siapa cucumu. Di hulu sungai
badak. Salak srigala di belantara kota.

Kamarku di sana, beratap pengap,
berdinding kaca, langit-langit undian,
tujuhpuluhlima juta. Mari bergadang,
main kartu, minum arak, makan sajak,

bicara mahasiswi, jingkrak
jingkrak, berteriak! Kaset pusing
merintihkan daging. Hiburan murahan.

Sedang dulu karuhun
nayuban sampai pagi, minum kopi
merangkul penari, hidup dalam gamelan mimpi.

Itu zaman penjajahan
Kami jauh lebih dewasa, begitu
sederhana dalam alam merdeka. Antara
gubuk-gubuk dan rumah mewah, barang berlimpah.

Sarapan menganga: kopisusu, rotibakar dan
matasapi. Airjeruk ekstra. Ayam apa pula
bertelur tanpa berkelamin makan vitamin dalam
bumbung janin? Cinta memerlukan dapur, tempat tidur.

Rumput. Ombakkah yang
di laut. Hiu, ikan cucut, kau lupa
siapa cucumu.Dulu kau mengira bahagia.

Kami, dari hari
ke hari memupuk diri
dengan pinjaman mimpi.

[Wing Kardjo]

#Syair #Puisi #Religi
BERITA TERKAIT
Jika Terlintas Kemaksiatan dalam Hati dan Pikiran
Tiap Istri Miliki Potensi Menjadi "Malaikat"
Wahai Istriku, Sudah Baik kah Aku sebagai Suamimu?
Kisah Ali bin Abi Thalib dan Abu Dzar
Gejolak Kekuasaan yang Ambisius dan Dikuasai Nafsu
Kisah Jabir dan Istrinya Menjamu Para Sahabat
Generasi Muda, Latihlah Diri untuk Tulus Berinfak

ke atas