DUNIA

Rabu, 09 Mei 2018 | 08:20 WIB

Iran Siap Memulai Kembali Pengayaan Uranium

Iran Siap Memulai Kembali Pengayaan Uranium
Presiden Iran, Hassan Rouhani

INILAHCOM, Teheran--Iran mengatakan siap untuk memulai kembali proses pengayaan uranium, yang menjadi kunci dalam pengembangan energi dan juga senjata nuklir. Demikian laporan yang dikutip dari BBC, Rabu (9/5).

Hal itu disampaikan Presiden Iran, Hassan Rouhani, untuk menganggapi keputusan Presiden Donald Trump bahwa Amerika Serikat akan mundur dari kesepakatan nuklir Iran, yang ditandatangani tahun 2015 lalu.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, maka Iran akan membatasi progam nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi yang sebelumnya diterapkan oleh PBB, Uni Eropa, dan AS.

"Amerika Serikat sudah mengumumkan mereka tidak menghormati komitmen-komitmen. Saya sudah memerintahkan Organisasi Energi Atom Iran untuk siap memulai pengayaan uranium pada tingkat industri," tutur Presiden Rouhani.

Dia menambahkan akan 'menunggu selama beberapa pekan' untuk lebih dulu berbicara dengan sekutunya dan penandatanganan lain dari kesepakatan tersebut.

"Jika kami mencapai tujuan dengan anggota lain dari kesepakatan, maka kesepakatan itu akan tetap berlaku."

Walau sekutu Trump di Eropa menyarankan agar kesepakatan nuklir itu tetap dipertahankan, mundurnya AS berarti penerapan kembali sanksi ekonomi mereka atas Iran.

"Saya mengumumkan hari ini bahwa Amerika Serikat akan mundur dari kesepakatan nuklir Iran," kata Trump dengan menambahkan bahwa kesepakatan tersebut 'busuk dan bobrok' yang membuatnya malu sebagai warga negara.


Saat mengumumkannya di Gedung Putih, Selasa (8/5), Trump juga mengatakan 'siap, akan, dan mampu untuk merundingkan kesepakatan baru dengan Iran jika negara itu bersedia'.

Prancis, Jerman, dan Inggris--yang berupaya untuk mengubah pikiran Trump--mengatakan mereka menyesalkan keputusan Amerika Serikat.

Sementara Kementrian Luar Negeri Rusia, yang juga ikut menandatangani kesepakatan, mengatakan keputusan Trump 'amat mengecewakan'.

Presiden Trump memang amat kritis atas kesepakatan nuklir yang dicapai tahun 2015 lalu, yang disebut dengan Joint Comprehensive Plan of Action, JCPOA, atau Rencana Aksi Menyeluruh Bersama.

Mantan Presiden Barack Obama menulis pesan di Facebook bahwa kesepakatan itu berjalan dan untuk kepentingan Amerika Serikat.

"Berjalan menjauh dari JCPOA membuat kita membelakangi sekutu-sekutu paling dekat Amerika dan kesepakatan yang dirundingkan oleh para diplomat, ilmuwan, dan profesional kita yang ulung."

Namun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan 'sepenuhnya mendukung keteguhan' Trump untuk mundur dari kesepaatan 'yang membawa petaka'.

Dan Arab Saudi--yang merupakan seteru Iran di wilayah--menyatakan 'mendukung dan menyambut baik' langkah Trump untuk ke luar dari kesepatakan. [bbc/lat]
#iran #pengayaan #uranium
BERITA TERKAIT
AS Tuntut Dua Warga Iran Mata-mata
(Pimpinan Tertinggi Iran) Salah Urus Lebih Berbahaya daripada Sanksi AS
Iran akan Bentuk Pengadilan Korupsi
Protes Marak di Iran Setelah Sanksi Baru AS
Di Venezuela, Tisu Dijual 2,6 Juta, Ayam 14,6 Juta
Muslim Amerika Rayakan Idul Adha
Mantan Kuasa Hukum Trump Akui Bersalah

ke atas