DUNIA

Kamis, 17 Mei 2018 | 13:49 WIB

Erdogan dan Netanyahu Kembali Perang Kata-kata

Erdogan dan Netanyahu Kembali Perang Kata-kata
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan PM Israel Benyamin Netanyahu (Foto: bbc)

INILAHCOM, Jakarta--Unjuk rasa warga Palestina di perbatasan Gaza dan Israel, yang menewaskan 58 orang dan melukai sekitar 2.700 warga Palestina lainnya, juga memicu 'bentrokan' lain.

Seteru sengit Israel, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, langsung menggunakan kekerasan pada awal pekan tersebut untuk kembali menyerang dengan menulis di Twitter bahwa 'Netanyahu adalah perdana menteri negara apartheid'.

Komentar itu ditanggapi PM Israel, Benjamin Netanyahu, dengan menyebut Erdogan sebagai salah satu pendukung kuat Hamas.

Kelompok Hamas -yang menguasai Jalur Gaza dan menjadi motor dalam aksi unjuk rasa di perbatasan Gaza dan Israel, ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Bukan pertama kalinya kedua pemimpin itu saling perang kata-kata.

Awal April, Erdogan dan Netanyahu saling menyerang lewat Twitter setelah jatuhnya korban jiwa dalam awal unjuk rasa bergelar 'Pawai Besar Kepulangan' di perbatasan Gaza dengan Israel.


Unjuk rasa itu berlangsung hingga pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jerusalem, Senin (14/5), dan peringatan 70 tahun yang disebut Palestina sebagai Nakba atau pengungsian besar-besaran rakyat Palestina setelah terbentuknya negara Israel, Selasa (15/5).

Dalam unjuk rasa Senin awal pekan ini, para pengunjuk rasa Palestina melempari batu dan peralatan pembakar sementara tentara Israel melepas tembakan peluru api dan gas air mata.

Pihak berwenang Palestinya menyebutkan 58 orang dan 2.700 lainnya cedera, termasuk anak-anak.

Jatuhnya korban jiwa yang besar itu membuat Presiden Erdogan--dalam serangan Twitter terbarunya--menyebut 'ada darah warga Palestina' di tangan Netanyahu.

"Mau pelajaran tentang kemanusiaan? Baca 10 Perintah Tuhan," tambah Presiden Erdogan.

Menanggap komentar itu, Netanyahu mengatakan Erdogan sebagai pendukung berat Hamas dan, "tidak diragukan lagi dia memahami terorisme dan pembantaian. Saya sarankan dia tidak berkhobah tentang moralitas kepada kami." [bbc/lat]
#erdogan #netanyahu #perang
BERITA TERKAIT
Uni Emirat Arab Bantah Campuri Pilpres AS 2016
Wartawan Korsel Liput Penutupan Nuklir Korut
(Kurangi Utang Negara) Mahathir Pangkas Gaji Para Menteri Malaysia
Trump: Pertemuan dengan Kim Mungkin Batal
Masih Numpang Rumah,Orang Tua Gugat Putranya
(Amnesty International) Rohingya Juga Lakukan Pembantaian
Venezuela Usir Dua Diplomat AS

ke atas