NASIONAL

Selasa, 12 Juni 2018 | 19:28 WIB

Pemilu 2019 Pertaruhan Politik Trah Cendana

R Ferdian Andi R
Pemilu 2019 Pertaruhan Politik Trah Cendana
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pemilu 2019 menjadi pertaruhan politik trah Cendana. Terlebih, setelah masuknya Titiek Soeharto dalam barisan Partai Berkarya yang dipimpin Tommy Soeharto, adik kandung Titiek. Keluarga Cendana balik ke gelanggang politik setelah 20 tahun tersingkir.

Hijrah Titiek Soeharto dari Partai Golkar ke Partai Berkarya menambah kekuatan baru di partai baru peserta Pemilu 2019 ini. Figur Titiek di Partai Golkar merupakan sosok yang diperhitungkan. Setidaknya, sejumlah jabatan pernah ia sandang seperti Wakil Ketua Umum Partai Golkar, bahkan pernah disiapkan sebagai Wakil Ketua MPR menggantikan Mahyudin.

Saat menyampaikan alasan dirinya pindah ke Partai Berkarya, Titiek menyebutkan sikap Partai Golkar dinilai menerapkan sikap Asal Bapak Senang (ABS) terhadap pemerintahan Jokowi. Titiek menyebutkan sebagai anak biologis Soeharto, dirinya tidak ingin tinggal diam atas persoalan kebangsaan saat ini.

"Oleh karena itu saya memutuskan untuk KELUAR dari Partai Golkar dan memilih untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui Partai BERKARYA," sebut Titiek, di Kemusuk, Yogyakarta, Senin (11/6/2018).

Kehadiran Titiek di Partai Berkarya menambah deretan politisi Partai Golkar yang memilih hijrah ke partai ini. Sebelumnya mantan Wakil Ketua DPR dari Partai Golkar Priyo Budi Santoso juga lebih dulu hijrah ke partai ini. Bahkan, Ketua Umum Partai Berkarya, Tommy Soeharto, sebelumnya juga sebagai kader Partai Golkar. Saat Munas Partai Golkar pada tahun 2009, Tommy sempat menjadi kontestan.

Partai Berkarya bisa disebut sebagai partai ketiga yang digeluti keluarga Cendana. Pasca reformasi 1998 silam, keluarga Cendana melalui Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab disebut Mbak Tutut berada di balik layar keberadaan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Partai pimpinan mantan KASAD R Hartono ini menjadi peserta Pemilu tahun 2004. Bahkan, partai ini secara terbuka menjadikan Tutut sebagai ikon partai ini dan mencalonkan dalam Pemilu 2004. Ini terjadi tujuh tahun setelah berakhirnya rezim Soeharto.

Sayang, kendati membawa kebesaran nama keluarga Cendana, partai ini hanya bisa meraih 2,11% suara dalam Pemilu 2004. Lebih tragis lagi, dalam Pemilu 2009, partai ini hanya mampu meraih suara 1,40 persen. Akibatnya, partai ini tidak lolos parliamentary threshold (PT). Praktis eksperimentasi perdana keluarga Cendana di jalur politik pasca-lengsernya Pak Harto pada 1998, gagal total.

Eksperimentasi kedua dilakukan Tommy Soeharto dengan keterlibatannya dalam Munas Partai Golkar di Pekanbaru pada 2009. Saat itu nama Tommy cukup ramai dibincangkan dalam hajatan politik lima tahunan di Partai Golkar. Sayangnya, Tommy sama sekali tidak dilirik peserta Munas. Figur Tommy tenggelam di tengah pertarungan keras Aburizal Bakrie versus Surya Paloh. Kharisma sebagai Pangeran Cendana sama sekali tak memikat pemilik suara di Partai Golkar.

Eksperimentasi ketiga dilakukan Titiek Soeharto dengan maju dalam Pemilu Legislatif tahun 2014 lalu melalui Partai Golkar. Titiek berhasil lolos ke Senayan. Figur Titiek di Golkar relatif diperhitungkan. Puncaknya, ia didapuk sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar dalam Munas Partai Golkar di Bali tahun 2014.

Di kepemimpinan Airlangga Hartarto, Titiek juga dipromosikan sebagai Wakil Ketua MPR. Namun, dalam praktiknya, penempatan Titiek sebagai Wakil Ketau MPR terganjal aturan di UU MPR, DPR, DPD dan DPRD. Titiek kandas menjadi Wakil Ketua MPR menggantikan Mahyudin.

Gerak politik keluarga Cendana pasca-reformasi ini tampak terseok-seok. Berbagai eksperimentasi politik yang dilakukan tidak membuahkan hasil maksimal. Situasi berbeda bila dibandingkan dengan keluarga Bung Karno di jalur politik. Setidaknya melalui representasi Megawati Soekanroputri.

Pasca-berakhirnya masa orde lama, keluarga Bung Karno dalam kurun beberapa tahun menyepi dari hiruk politik. Baru di 1986 atau 18 tahun setelah berakahirnya rezim Orde Baru, Megawati secara resmi masuk Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Kala itu, Megawati didapuk sebagai Wakil Ketua DPC PDI Jakarta Pusat.

Tak butuh waktu lama, pada 1993, figur Megawati di PDI mencapai puncaknya dengan terpilih sebagai Ketua Umum PDI dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya. Ia terpilih secara aklamasi. Namun terpilihnya Megawati tidak dikehendaki rezim kala itu. Hingga muncul peristiwa 27 Juli 1996.

Saat reformasi bergulir, Megawati menggunakan baju PDI Perjuangan yang semakin mengukuhkan trah Bung Karno di jalur politik. Pemilu 1999 menahbiskan PDI Perjuangan sebagai partai pemenang pemilu. Tidak hanya itu, Megawati juga terpilih sebagai Wakil Presiden dalam Sidang Umum MPR tahun 1999 serta terpilih menjadi Presiden dalam Sidang Istimewa MPR pada 2001. [*]

#TitiekSoeharto #Cendana #Golkar
BERITA TERKAIT
Golkar Yakin Romantisme Orba Tak Akan Menang
Kata Shinta Ketika Ditemui Titiek Soeharto
Dukung Khofifah-Emil,Golkar Targetkan Ini di Jatim
Ini Harapan Jokowi Minta kepada Akuntan
'Polisi Pi Ajar' Merah-Putihkan Hati Anak Papua
Kejagung Didesak Cuci Gudang Jajaran Gedung Bundar
Polisi Periksa Ayah Penjual Blangko e-KTP Daring

ke atas