TEKNOLOGI

Rabu, 13 Juni 2018 | 05:30 WIB

Organisasi Sopir Curigai Grab Tilep Duit dari 2017

Ibnu Naufal
Organisasi Sopir Curigai Grab Tilep Duit dari 2017
(ist)

INILAHCOM, Jakarta, Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Christiansen Wagey menyoroti kasus penilepan uang isentif mitra driver Grab senilai Rp1 miliar yang dilakukan orang dalam.

Dia menilai kasus itu menunjukkan ada masalah sistem kelola Grab.

Kami melihat Grab tidak profesional yang menyebabkan kerugian bagi mitra diver GrabCar, sesalnya, kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/6/2018).

Christiansen menambahkan peristiwa itu secara langsung berdampak negatif pada mitra driver. Terlebih yang dimanipulasi adalah data-data akun para mitra dan dilakukan oleh pegawai internal.

Lebih rinci, dia menyebutkan sering menerima keluhan mitra pengemudi GrabCar yang pada tahun lalu di-suspend sepihak sehingga insentif atau depositnya hilang.

Patut diduga, apakah sindikat yang diungkap oleh Polda itu merupakan bagian dari fenomena suspend sepihak, hilangnya insentif dan deposit yang dialami mitra driver GrabCar di tahun 2017, ungkapnya.

Kerugian mitra driver Grab Car atas gejala itu di tahun lalu, lanjut Christiansen, bervariasi nilainya. Berkisar Rp100-an ribu hingga lebih dari Rp1 juta per orang.

Grab Indonesia wajib mengganti kerugian yang dialami oleh driver, menyampaikan klarifikasi, dan membuka posko pengaduan sehingga hak-hak pengemudi Grab Car dipenuhi oleh mereka, harap Christiansen.

Terpisah, Ketua Komite Nasional Kebijakan Governance, Mas Achmad Daniri menilai terjadinya kasus pada Grab itu berakar pada isu transparansi.

Masalah di Grab itu kemungkinan informasi tidak sampai ke mitra driver sehingga oknum Grab itu bisa melakukan reroute rekening, ungkapnya, Selasa.

Achmad Daniri menegaskan, harus ada prinsip check and balance serta transparansi itu agar masalah serupa tidak terulang lagi.

Sebenarnya prinsip GCG murah dan sederhana, tegasnya.

Dia mencontohkan bagaimana peraih Nobel, Muhammad Yunus, membangun prinsip serupa GCG dalam Grameen Bank di Bangladesh.

Dari 10 anggota, misalnya, ketika salah satu default maka yang lain tanggung renteng. Sesederhana itu. Maka harus saling mengingatkan dan transparan, paparnya.

Maka kembali pada prinsip transparansi melibatkan pengelola dengan para anggota dalam hal ini mitra driver Grab.

Kemungkinan persoalan di Grab terjadi karena tidak ada transparansi, imbuhnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menguak kasus dengan motif disebut-sebut memodifikasi akun mitra Grab Car itu pada akhir pekan kemarin. Aksi tersebut diungkapkan beroperasi dari akhir tahun 2017 hingga Mei 2018.

Pelakunya adalah pihak call center GRAB, mantan-mantan admin call center, dan seorang modifikator akun para mitra GRAB yang memodifikasi akun para pengemudi Grab Car itu.

Uang insentif yang seharusnya diberikan untuk 3.000 akun GrabCar dialihkan ke rekening pelaku.

#Grab #ojol
BERITA TERKAIT
Microsoft Tanamkan Investasi ke Grab
Warganet Geram Sopir Grab Lecehkan Perempuan
DFSK Hadirkan Mobil Medis Super Cab Ambulance
Fujifilm Buka Pusat Learning Center di Jakarta
Vivo Maksimalkan Layanan Purna Jual Konsumen
Fitur 'Digital Wellbeing' Rilis untuk Android One
Samsung Galaxy Book 2 Resmi Meluncur

ke atas