MOZAIK

Minggu, 01 Juli 2018 | 18:00 WIB

Jebakan Berbuah Hadiah

Jebakan Berbuah Hadiah
(Foto: ilustrasi)

SESEKALI, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil risiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.

"Ayo Nasrudin," kata Timur Lenk, "Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu."

Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, "Demikianlah gaya tuan wazir memanah."

Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, "Demikianlah gaya tuan walikota memanah."

Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, "Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja."

Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin. []

BERITA TERKAIT
Jika Terlintas Kemaksiatan dalam Hati dan Pikiran
Tiap Istri Miliki Potensi Menjadi "Malaikat"
Wahai Istriku, Sudah Baik kah Aku sebagai Suamimu?
Kisah Ali bin Abi Thalib dan Abu Dzar
Gejolak Kekuasaan yang Ambisius dan Dikuasai Nafsu
Kisah Jabir dan Istrinya Menjamu Para Sahabat
Generasi Muda, Latihlah Diri untuk Tulus Berinfak

ke atas