EKONOMI

Minggu, 01 Juli 2018 | 04:19 WIB

Demi Petani Sejahtera, HKTI Dorong Modernisasi

Demi Petani Sejahtera, HKTI Dorong Modernisasi
Ketua Umum HKTI Moeldoko (Foto: inilahcom)
INILAHCOM, Jakarta - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mendorong modernisasi sektor pertanian. Yang berujung kepada meningkatnya kesejahteraan petani.

Perubahan paradigma yang mengedepankan teknologi dan riset untuk kesejahteraan petani, menurut Ketua Umum HKTI Moeldoko, harus menjadi budaya petani.

"Kami berharap, petani dari waktu ke waktu sudah terbiasa menggunakan teknologi sebagai upaya meningkatkan produksi. Ini sedang kami kerjakan dalam tempo tidak terlalu lama," kata Moeldoko dalam penutupan acara Asian Agriculture and Food Forum (ASAFF) 2018, Jakarta, Sabtu (30/6/2018).

Mekanisasi di seluruh sektor pertanian, kata dia, juga bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas hasil bumi. Diharapkan, pertanian Indonesia bisa bersaing di dunia.

Moeldoko mengatakan, di negara maju, sektor pertanian memiliki kecenderungan menggunakan teknologi tinggi. Setiap benih, bibit, alat dan mesin pertanian selalu ditingkatkan dengan inovasi baru agar hasil buminya meningkat mengimbangi pertumbuhan penduduk.

"Saya ingin menyampaikan bahwa negara yang memiliki tingkat kemajuan di pertanian pasti memiliki high innovation. Petani kita, pertanian Indonesia, hanya bisa berkembang karena teknologi. Sementara ini masyarakat kita masih hampir sebagian tradisional," kata Moeldoko yang juga Kepala Staf Kepresidenan ini.

HKTI sendiri, lanjut Moeldoko, sudah melakukan sejumlah inovasi di sektor pertanian. Moeldoko mengaku telah menemukan benih padi yang berumur 70 hari bisa menghasilkan delapan ton per hektare. "Saya punya M500 hasilnya sembilan ton," tambah Moeldoko.

Di samping padi, kata Moeldoko, HKTI berhasil menemukan bibit kentang yang bisa meningkatkan produktivitasnya. Menurut Moeldoko, hasil pengembangan kentang ini bisa mencapai produktivitas 30 ton per hektare, dua kali lipat dibanding dengan bibit kentang sebelumnya yang berjumlah 15 ton per hektare.


Kemudian, lanjut dia, hasil penyelenggaraan ASAFF selama tiga hari ini, juga menghasilkan sejumlah kerja sama bilateral dengan negara lain. Menurutnya, teknologi pertanian yang tergolong maju bisa mencontoh negara-negara maju yang pertaniannya bisa hebat di Internasional, seperti Israel, Taiwan dan Thailand.

Dengan nilai tukar mata uang asing yang meningkat, justru petani bisa naik kesejahteraannya, jika ekspor hasil pertanian meningkat.

"Kami HKTI telah bangun komunikasi dan akan MoU dengan negara-negara yang memiliki high technology di bidang pertanian agar terjadi transformasi teknologi, transformasi culture, knowledge dan seterusnya," jelas Moeldoko.

Bukan hanya produksi, kata Moeldoko, petani Indonesia juga diharapkan bisa mandiri dalam mengola hasil buminya. Dengan pengelolaan dan pengemasan yang bagus, nilai jual pangan akan semakin tinggi.

"Percuma ada barang bagus tetapi tidak bisa mengolah. Karena itu, kami siapkan barang bagus, benih dan pupuk. Setelah itu kami dampingi dengan baik dan coba untuk bantu cari pembelinya," kata mantan Panglima TNI bergelar doktor administrasi negara dari Universitas Indonesia ini.

Sementara, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi ide dan gagasan Moeldoko yang turut membangun sektor pertanian Indonesia.

Amran menyadari HKTI termasuk lembaga yang memiliki banyak inovasi. "Kata kunci suksesnya pertanian harus mendorong inovasi. Harus mendorong bibit, mekanisasi kemudian pengolaan pascapanen. Tadi menarik di acara ASAFF, banyak produk yang hasilnya cukup tinggi produktivitasnya. Mulai dari kedelai, sayur-sayuran, rempah-rempah," kata Amran.

Pria asal Sulsel ini juga ingin agar rempah-rempah Indonesia kembali berjaya seperti halnya 1602. Saat itu, rempah-rempah Indonesia sangat bagus di mata dunia sehingga menjadi sasaran bagi Belanda dan Spanyol.

"Sekarang bapak presiden perintahkan, kembangkan rempah-rempah, kembalikan kejayaan rempah-rempah seperti 500 tahun yang lalu. Kami sudah menyiapkan anggaran Rp5 triliun lebih untuk beli bibit dan pupuk gratis guna dibagikan ke masyarakat Indonesia," kata Amran. [tar]
#HKTI #Petani #Kementan
BERITA TERKAIT
BKP Kementan Bahas Pangan dan Gizi Bersama FAO-WFP
Mentan: Kenapa Harga Telur Jadi Mahal!
Disparitas Telur Ayam 60%, Amran Sentil Pengusaha
BKP Pacu Sergap Bulog Subdivre Subang & Indramayu
Dorong Jeruk Lokal, Mentan Amran 'Ruarr' Biasa
Petani Daerah Kena Tipu Importir Bawang Putih
Digoda Telur Ayam, Ridwan Kamil Perintahkan OP

ke atas