MOZAIK

Kamis, 12 Juli 2018 | 00:05 WIB

Mode 'Mute' untuk Menjaga Ketenangan

KH Ahmad Imam Mawardi
Mode 'Mute' untuk Menjaga Ketenangan
(Foto: Ilustrasi)

DI handphone kita ada mode mute untuk mencegah munculnya suara, baik dari duara nada panggil atau suara apapun. Mode mute ini semakna dengan mode silent atau diam. Biasanya, handphone kita distel pada mode ini saat kita berada dalam nuansa serius yang tak boleh diganggu, suasana damai yang tak bisa diganggu dan atau posisi ingin tenang dan sejahtera. Iya, suara dari luar kadang mengganggu.

Dalam kehidupan, kita kadang juga butuh "mode mute," silent atau diam untuk menggapai damai, tenang dan sejahtera. Jangan banyak bicara dan jangan banyak mendengar suara dari luar. Bicaralah dengan hati sendiri dan dengarkanlah suara batin diri sediri. Inilah salah satu makna sabda Rasulullah kepada Wabishah: "Ya Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu, pada dirimu." Tak ada yang lebih jujur ketimbang hati kita sendiri.

Kini, dunia menjadi kacau karena terlalu banyak yang berbicara. Semua mulut merasa berhak bersuara tanpa bertanya kepada dirinya sendiri tentang sudah layakkah lantang bersuara. Nada ringtone handphone yang disenangi semua orang adalah nada yang indah, menyentuh hati dan penuh makna. Kalau nada suara kita kiranya tak indah, tak menyentuh hati atau bahkan menjadikan geram emosi dan tak punya makna, maka setting ke mode mute sajalah.

Kalau suara yang ada di sekitar kita tak lagi indah dan menentramkan, maka setting saja telinga kita pada mode yang tak memungkinkan kita mendengarnya. Ini adalah satu cara mejadi damai di tengah hiruk pikuk dunia yang semua mulut berbicara. Ah, dunia kita sungguh terlalu gaduh. Dulu, hanya orang alim dan wara' yang berbicara. Kini, semua orang merasa cukup alim untuk berfatwa. Cukup dengan "copy paste" sudah merasa layak sebagai panutan.

Dulu, hanya orang alim dan wara' yang suaranya didengar dan diabadikan. Kini, kita setiap saat membaca dan mendengar semua yang bisa dibaca dan didengar tanpa kita tahu kualitas penulis dan pembicaranya. Apa akibatnya? Kebingungan dan kegalauan meningkat. Mulai sekarang, seringlah setting hidup ke mode diam. Mulai sekarang, seleksilah sumber bacaan dan sumber suara. Sejak saat ini, seleksilah kepada siapa dan kapan kita harus bersuara. InsyaAllah damai. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Wahai Anak-anakku Ingat Pesan Imam al-Ghazali
Jangan Berbangga Dulu Sebelum Tahu
Jadi Pendengar yang Baik Tidaklah Mudah
Suami dan Istri yang Dirindukan di Rumah
Di Antara Para Pengeluh, Adakah Kita?
Siapa yang Sempurna Akal dan Pengetahuannya?
Perbedaan Pendapat

ke atas