DUNIA

Kamis, 09 Agustus 2018 | 10:16 WIB

Protes Marak di Iran Setelah Sanksi Baru AS

Protes Marak di Iran Setelah Sanksi Baru AS
Warga Iran melakukan protes kondisi ekonomi yang makin sulit. (Foto: voa)

INILAHCOM, Teheran--Iran dilanda protes di mana-mana, satu hari setelah babak pertama sanksi ekonomi baru AS mulai berlaku. VOA melaporkan, Kamis (9/8/2018).

Di tengah protes marak di seluruh negeri yang berlansung Rabu (8/8/2018), parlemen Iran hari itu juga memecat Menteri Tenaga Kerja Ali Rabie. Saat itu, berlangsung debat sengit mengenai kebijakan ekonomi baru untuk mengatasi pengangguran dan memacu perekonomian yang lemah di negara itu.

Pada hari Selasa, pemimpin Majelis Pakar Iran yang berhaluan keras, Ayatollah Ahmed Jannati, mendesak Presiden Hassan Rouhani agar mengganti semua menterinya.

Video amatir di media sosial memperlihatkan kerumunan pengunjuk rasa di depan bank sentral negara itu pada hari Selasa menuntut koperasi kredit pemerintah yang gagal agar mengembalikan uang mereka.

Juga hari Selasa, sejumlah orang dilaporkan cedera ketika pasukan keamanan menindak demonstran di kota Malek Shahr, di luar Isfahan. Video amatir menunjukkan korban tergeletak dan berteriak.

Mantan diplomat dan komentator politik Iran, Mehrdad Khonsari mengatakan kepada VOA protes tersebut bukan merupakan "ancaman eksistensial" terhadap rezim, tetapi sanksi baru AS tidak diragukan lagi "memberi tekanan yang besar pada pemerintah."

"Saya pikir Iran kurang lebih sudah siap untuk mematahkan pantangan lama untuk berbicara dengan AS, tetapi mereka mungkin ingin sanksi dicabut sementara pembicaraan berlangsung," katanya.

Khonsari percaya Iran berada dalam posisi lebih terhormat karena AS yang melanggar perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) dengan lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan Jerman.

Presiden Donald Trump mengatakan dia menarik AS dari pakta nuklir internasional itu karena kesepakatan itu buruk, menguntungkan satu pihak dan gagal mencapai tujuan fundamental untuk mencegah Iran membuat bom nuklir.

Dia mengatakan kesepakatan itu memungkinkan Iran mendukung terorisme dan militan di seluruh dunia, merusak sistem keuangan internasional, dan mengancam AS dan sekutunya.

Menteri Luar Negeri Iran Mohamad Javad Zarif mencela Trump karena "mengancam" Iran dan negara-negara lain. Dalam sebuah pesan Tweeter, dia mengatakan bahwa "dunia tidak akan mengikuti cuitan diktator yang impulsif." Dia juga mengatakan kepada para wartawan bahwa AS bersikap munafik.

Dia mengatakan AS berpura-pura prihatin tentang rakyat Iran, namun sanksi pertama yang dikenakannya adalah larangan terhadap penjualan pesawat penumpang, yang membahayakan keselamatan rakyat Iran.

Media Arab melaporkan bahwa Oman dan Swiss telah menawarkan untuk menengahi kedua negara. Oman adalah salah satu mediator utama menjelang kesepakatan nuklir 2015. [voa/lat]

#iran #rpotes
BERITA TERKAIT
AS Terapkan Sanksi Jaringan Garda Revolusi Iran
Keluar Perjanjian Nuklir, Rusia Pertanyakan AS
Yordania ingin Israel Kembalikan Tanah yang Disewa
Pemerintah Australia Kehilangan Mayoritas Parlemen
WNI Dihukum di Malaysia Terkait ISIS
(Buntut Hilangnya Wartawan) Barat Mundur dari Konferensi Investasi di Saudi
Trump Ancam Tutup Perbatasan AS-Meksiko

ke atas