MOZAIK

Sabtu, 11 Agustus 2018 | 09:00 WIB

Kenapa Tinggalkan Salat saat Haid Tak Perlu Qada?

Kenapa Tinggalkan Salat saat Haid Tak Perlu Qada?
(Foto: ilustrasi)

ALLAH Ta'ala telah memberikan salah satu pemberian yang amat luar biasa bagi kita manusia, yaitu logika dan nalar. Dan kita diwajibkan untuk mempergunakan logika dan nalar sebagai wujud iman kita kepada Allah dalam mengarungi hidup di permukaan planet bumi.

Namun logika dan nalar tidak harus selalu digunakan, khususnya dalam urusan ibadah yang bersifat ritual dan ta'abbdi. Memang kadang ada beberapa jenis ibadah yang secara nalar logika agak kurang masuk akal. Dan tidak sedikit orang awam yang terjebak dengan logika dan nalar, yang digunakan bukan pada tempatnya.

Misalnya dalam bab thaharah dimana kita tidak menemukan air untuk berwudu. Maka sebagai gantinya kita bersuci dengan cara bertayammum menggunakan tanah. Tanah yang kotor dan kita injak-injak itu malah kita balurkan ke wajah dan tangan. Secara nalar dan logika, tayammum ini jelas tidak masuk akal. Katanya bersuci, kok malah main tanah dan diratakan ke wajah?

Dalam hal ini kita mengatakan bahwa tayammum adalah ibadah ritual yang sama sekali tidak menggunakan logika dan nalar. Istilahnya ta'abbudi dan bukan ta'aqquli. Kurang lebih terjemahannya: ritual dan bukan logika.

Baik puasa ataupun salat, keduanya sama-sama ibadah ta'abbudi alias ritual, dimana aturan dan ketentuannya semata-mata ditentukan langsung oleh Allah dari atas langit. Kita tidak berhak untuk mengotak-atik ketentuan itu, apalagi menciptakan kreatifitas sendiri dalam masalah ketentuannya.

Dan salah satu ketentuan yang sudah baku dari langit adalah dalam hal keharaman melakukan salat dan puasa bagi wanita yang sedang haid, serta tata aturan dan teknis penggantiannya. Dalam hal ini ada hadis nabawi yang diriwayatkan oleh salah seorang istri beliau, Aisyah radhiyallahuanha.

Dari Muadzah berkata, "Aku bertanya kepada Aisyah, "Mengapa wanita haid wajib mengqada puasa dan tidak wajib mengqada shalat?" Aisyah bertanya, "Apakah kamu wanita haruriyah?", Aku menjawab,"Aku bukan haruriyah, tetapi aku bertanya." Aisyah berkata,"Kami (para wanita) mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqada puasa dan tidak diperintah untuk mengqada salat. (HR. Muslim)

Sebagian kalangan menafsirkan makna haruriyah di dalam hadis itu adalah bagian kelompok khawarij yang amat keras sikapnya dan berlebihan dalam beragama. Kata haruriyah diambil dari nama suatu kampung atau tempat yang jadi tempat mereka menghimpun kekuatan, yaitu Harura' di dekat kota Kufah.

Namun inti dari hadis ini adalah penjelasan hukum syariah yang amat penting, antara lain:

1. Wanita haid dilarang mengerjakan salat dan puasa, baik yang hukumnya wajib atau pun yang hukumnya sunah.
2. Salat fardu yang ditinggalkan wanita haid telah Allah tetapkan tidak perlu diganti tidak ada kewajiban untk qada'
3. Sedangkan puasa fardu yang ditinggalkan wanita haid telah Allah tetapkan untuk diganti alias diqada. Dan qada atas puasa ini hukumnya wajib.

Jadi kesimpulannya adalah memang kewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan oleh wanita haid itu merupakan ketentuan langsung dari Allah. Demikian juga bahwa salat yang ditinggalkan oleh wanita haid tidak perlu diganti, juga merupakan ketetapan dari langit. Kita tidak punya ruang untuk melogikakan dua ketentuan ini, karena arenanya bukan untuk arena nalar dan logika.

Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas sering 'disalah-gunakan' demi mempertahankan pendapat tidak ada syariat qada salat. Padahal justru hal itu bertentangan dengan apa yang telah menjadi ijma' para ulama, bahwa diwajibkan qada salat yang terlewat.

Sayangnya cara yang digunakan kurang terpuji, yaitu dengan memenggal hadis itu sepotong demi sepotong, lalu diberi tafsiran sendiri sesuai selera, yang justru bertentangan dengan agama.

Ada kata-kata Aisyah yang diplintir, yaitu ketika beliau berkata: Kami diperintah untuk mengqada puasa dan tidak diperintah untuk mengqada salat. Lalu kalimat itu dipenggal sedemikian rupa dan dijadikan dalil bahwa salat itu tidak ada qadanya. Atau dengan bahasa lain, tidak ada istilah qada bagi salat yang ditinggalkan.

Padahal tidak ada satu pun ulama yang mengatakan demikian. Seluruh ulama dari berbagai mazhab, seperti mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilah, bahkan mazhab Az-Zahiriyah semua sepakat bahwa salat itu wajib diqada apabila terlewat. Kalau pun ada perbedaan, hanya dalam masalah apakah ditinggalkan dengan udzur syar'i atau tidak. Selama udzurnya syar'i, seluruh ulama sepakat wajib qada salat.

Kalau pun ada kalimat: tidak diperintah mengqada salat, maksudnya adalah khusus bagi wanita yang sedang haid dan tidak salat, mereka memang tidak perlu mengganti salat. Tapi buat yang lain, ketika terlewat tidak salat, entah karena tidur atau karena lupa dan karena udzur-udzur yang lain, maka seluruh ulama sepakat salatnya wajib diganti alias diqada.

Wallahu a'lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc., MA]

BERITA TERKAIT
Perintah Rasulullah Kita Harus Adil
Buat Apa Kita Menikah?
Mengharap Kesempurnaan Nikmat Allah
Kelembutan, dan Cinta Rasulullah kepada Anak-anak
Daun Pun Bertasbih kepada Tuhannya
Luar Biasanya Doa Tahyat
Yakin dengan Jaminan Allah

ke atas