EKONOMI

Sabtu, 11 Agustus 2018 | 04:09 WIB
(Jelang Pilpres)

Defisit Transaksi Berjalan Semakin Liar

Defisit Transaksi Berjalan Semakin Liar
Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik, Yati Kurniati (Foto: Istimewa)
INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat defisit neraca transaksi berjalan di triwulan II-2018 melonjak menjadi US$8 miliar. Atau 3% dari produk domestik bruto (PDB). Triwulan sebelumnya US$5,7 miliar, atau 2,2% dari PDB.

"Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik, Yati Kurniati dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (10/8/2018).

Yati menjelaskan, penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas terjadi karena naiknya impor bahan baku, dan barang modal. Sebagai dampak dari kegiatan produksi dan investasi yang meningkat, ketika ekspor nonmigas mengalami penurunan. "Impor yang dilakukan tidak semata-mata untuk konsumsi tapi juga untuk kegiatan produksi yaitu bahan baku dan bahan modal," kata Yati.

Ia menambahkan, peningkatan defisit neraca perdagangan migas ini dipengaruhi kenaikan impor migas, seiring kenaikan harga minyak global, serta permintaan yang tinggi pada periode Lebaran dan libur sekolah.

"Defisit neraca perdagangan migas ini dipengaruhi oleh naiknya harga minyak internasional di tengah-tengah siklus peningkatan konsumsi terhadap minyak yang tinggi pada triwulan dua," ujar Yati.

Selain itu, sesuai dengan pola musiman, pada triwulan II-2018, terjadi peningkatan pembayaran dividen maupun utang luar negeri korporasi yang ikut memberikan sumbangan terhadap defisit neraca pendapatan primer.

"Pada triwulan dua, juga ada waktunya jadwal pembayaran dividen dan utang luar negeri korporasi. Jadi memang ada faktor musiman yang memperbesar defisit neraca transaksi berjalan," kata Yati.


Dengan defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2018 sebesar 3% terhadap PDB, maka sampai dengan semester I-2018, defisit neraca transaksi berjalan berada di kisaran 2,6% terhadap PDB.

Yati menambahkan, terdapat surplus transaksi modal dan finansial sebagai cerminan optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi nasional.

Transaksi modal dan finansial pada triwulan II-2018, tercatat surplus US$4 miliar. Atau lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus US$2,4 miliar.

Surplus transaksi modal dan finansial ini berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tinggi, ditambah investasi portofolio yang kembali mencatat surplus.

Surplus investasi lainnya juga meningkat, terutama didorong penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri.

Meski demikian, surplus transaksi modal dan finansial itu belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan.
Dengan kondisi tersebut, pada triwulan II-2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), secara keseluruhan mengalami defisit US$4,3 miliar. Atau lebih tinggi ketimbang triwulan sebelumnya sebesar US$3,9 miliar.

Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi US$119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor. Secara keseluruhan, BI memproyeksikan kinerja NPI masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. [tar]


#TransaksiBerjalan #Defisit #Ekspor #Impor
BERITA TERKAIT
Ini Penjelasan Menkeu Soal Utang RI
Ini Alasan Pemerintah Tambah Utang Rp36 T di 2018
Tahun Depan Utang Jatuh Tempo Capai Rp409 T
Jokowi Batasi Defisit Anggaran 2019 Maksimal 1,84%
PDIP Dorong Penguatan Produk Lokal Kurangi Impor
BI Kerek Suku Bunga (Lagi), Pengusaha Santai Saja
BI Perkirkaan Neraca Perdagangan Kian Positif

ke atas