MOZAIK

Sabtu, 08 September 2018 | 21:00 WIB

Sang Perencana

Sang Perencana
(Foto: ilustrasi)
Dia telah tertawan dalam doa ini ketika sebuah Suara yang datang dari Langit, menyapa,
Engkau memang disuruh menyiapkan anak panah pada busurnya;
namun siapakah yang menyuruhmu melepaskannya dengan sekuat tenaga?


Kesombongan-dirilah yang mendorongmu tuk merentangkan busur tinggi-tinggi
dan memamerkan ketrampilanmu dalam seni panah-memanah.


Engkau memang harus mempersiapkan anak panah di busur,
namun janganlah kau tarik busur sekuat tenaga.


Di mana anak panah itu jatuh, gali dan temukanlah!
Jangan kau andalkan kekuatan, burulah harta karun itu dengan permohonan yang lembut menyedihkan.


Yang hakiki itu lebih dekat daripada urat leher,
dan engkau membidikkan anak panah pemikiran terlalu jauh dari sasaran


Filosof membunuh dirinya dengan pemikiran.
Biarkanlah dia terus berlari: membelakangi harta karun.


Sebagian besar yang ditakdirkan masuk Surga adalah orang-orang bodoh,
sehingga mereka menjauhkan diri dari kerancuan filsafat.


Jika orang pandai senang dengan rencana,
orang sederhana bersemayam nyaman, bagai bayi, di haribaan Sang Perencana.


[Rumi]
BERITA TERKAIT
Tenangkan Jiwa, Jadilah Pemimpin Kebaikan
Wanita Bertato Tobatlah, Laknat Allah Menantimu
Allahu Akbar, Nur Muhammad Ada Hingga Akhir Zaman
Jangan Menikahi Wanita Hamil Jika tak Tau Hukumnya
Tidak Ada Derita Atas Nama Cinta
Senantiasa Ikhlas dengan Takdir yang Pahit
Hitunglah Diri Sendiri Sebelum Hari Perhitungan

ke atas