EKONOMI

Senin, 10 September 2018 | 16:55 WIB

Anak Buah Darmin: Rupiah Melemah tapi Jangan Lebai

Anak Buah Darmin: Rupiah Melemah tapi Jangan Lebai
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) yang hampir menyentuh Rp15.000/US$, memang perlu diwaspadai, namun tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan.

"Depresiasi peso Argentina mencapai 49,62 persen, depresiasi lira Turki 40,7 persen, sedangkan depresiasi rupiah year to date 8,5 persen. Menurut saya, ini hanya ketakutan berlebihan, tapi harus waspada, iya," kata Deputi bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir dalam diskusi Bersatu untuk Rupiah di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Iskandar menuturkan, fundamental perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan Turki dan Argentina, terutama inflasi yang terkendali di level 3%-4% dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi dari Januari hingga Agustus 2018 hanya mencapai 2,13%. "Kita baru khawatir kalau inflasi kita tinggi. Kekhawatiran fundamental kita itu rapuh, tidak pas," ujar Iskandar.

Ia pun menyinggung soal defisit neraca transaksi berjalan yang tercatat US$8 miliar, atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB). Atau lebih tinggi dibandingkan defisit triwulan sebelumnya sebesar US$5,7 miliar, atau 2,21% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dan, melewati batas aman defisit transaksi berjalan yaitu 3%.

Menurut Iskandar, setiap triwulan kedua, defisit neraca transaksi berjalan, memang cenderung tinggi seperti pada triwulan II-2014 sebesar 4,24%. "Pada kuartal kedua kita kemarin kan banyak repatriasi keuntungan, makanya neraca pendapatan primer kita defisit cukup besar. Tapi, current account deficit 3,04 persen itu bukan kiamat, bukan merupakan suatu krisis," kata Iskandar.

Walaupun pada triwulan II-2018, defisit transaksi berjalan sudah mencapai batas maksimal yang dianggap aman yaitu tiga persen, namun jika dihitung per semester I-2018, defisit transaksi berjalan baru 2,6% dari PDB.

Kendati demikian, Iskandar mengakui defisit neraca perdagangan Indonesia perlu menjadi perhatian. Oleh karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia juga melakukan berbagai upaya strategis untuk mengurangi impor dan meningkatkan ekspor.

"Kondisi global yang penuh ketidakpastian ini berpengaruh ke negara kita. Tapi, kita perlu waspada juga karena neraca dagang kita memang negatif. Kalau defisit transaksi berjalan memang sudah biasa, setiap triwulan kedua selalu defisitnya besar. Tapi defisit neraca perdagangan 3,1 miliar dolar di tengah ketidakpastian ini memang harus kita tangani," kata anak buah Menko Perekonomian Darmin Nasution ini.

Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah pada Senin (10/9/2018) mencapai Rp14.835/US$, menguat dibandingkan hari akhir pekan lalu, atau Jumat (7/9/2018) Rp14.884/US$. [tar]

#MenkoDarmin #Rupiah #Kurs #Argentina
BERITA TERKAIT
Organda Galau Asing Kuasai Transportasi Publik
Nilai Investasi KEK Galang Batam Capai Rp5,6 T
Hari Ini, Darmin Resmikan KEK Galang Batang
BI: Cadev November Tertolong Penguatan Uang Garuda
Rupiah Melemah, Darmin Malah Salahkan Bos Huawei
Akhir Tahun, Kurs Rupiah Letoi Rp14.500-Rp14.700
Darmin Haqqul Yaqin Rupiah ke Level Fundamental

ke atas