EKONOMI

Kamis, 13 September 2018 | 12:50 WIB

Di Hanoi, Sri Mulyani Bicarakan Rupiah Letoi

M Fadil Djaelani
Di Hanoi, Sri Mulyani Bicarakan Rupiah Letoi
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Perhelatan World Economic Forum untuk ASEAN di Hanoi, Vietnam, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati bercerita tentang perbedaan kerentanan Indonesia dibanding negara berkembang lainnya.

Dalam konteks ini, Sri Mulyani menyasar imbas penguatan nilai tukar dolar Amerika. Saat ini, penguatan dolar AS tidak berpengaruh signifikan terhadap utang luar negeri. Namun lebih kepada Defisit Transaksi Berjalan/Current Account Deficit (CAD).

"Apa yang membedakan setiap negara adalah kerentanan terhadap faktor eksternal. Indonesia bukan pada hutangnya, namun pada defisit transaksi berjalan. Tiga persen dari GDP, dan angka tersebut masih dalam kendali," kata Sri Mulyani dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (13/9/2018).

Dijelaskan, ketika Amerika Serikat (AS) memiliki sentimen terhadap negara berkembang di belahan dunia lain, hal itu melahirkan dinamika. Melihat tantangan tersebut, pemerintah berupaya keras untuk menurunkan defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan. Caranya dengan membatasi impor secara selektif untuk menjaga momentum.

Selain itu, kata sri Mulyani, pemerintah meredam gejolak ekonomi global dengan membuat kebijakan yang memperhatikan faktor psikologis, atau sentimen pasar. Disertai dengan aktif mengkomunikasikan kebijakan kepada para pemangku kepentingan. [ipe]

#MenkeuSMI #Rupiah #Kurs
BERITA TERKAIT
Rupiah Berotot di Awal Tahun Ternyata Karena Ini
PLN Masih Bisa Naikkan Laba Operasional 13,3%
Sri Mulyani Jamin Usaha Kecil Digital Bebas Pajak
Utang Jadi Bom Waktu Presiden 2019-2024
Pajak E-Commerce Dikritik, SMI: Jangan 'Sensi'
Matikan UMKM, Aturan Pajak Sri Mulyani Diprotes
Jaring Pajak E Commerce, SMI Luncurkan PMK 210

ke atas