GAYA HIDUP

Sabtu, 22 September 2018 | 20:30 WIB

Kuliner Mendominasi Kompetisi DSC

Aris Danu
Kuliner Mendominasi Kompetisi DSC
(Foto: inilahcom)

INILAH.COM, Jakarta-Kompetisi wirausaha Diplomat Success Challenge (DSC) didominasi oleh para pelaku usaha kuliner. Pendaftaran DSC akan berakhir pada 1 Oktober 2018.

Menurut Juri dan Dewan Komisioner (Dekom) DSC Helmy Yahya peserta yang mendaftar kompetisi ini didominasi kalangan bisnis kuliner.

"Bidang kuliner selalu menjadi favorit karena sektor ini mudah digarap dan kekinian. Pelaku usaha tinggal memikirkan bagaimana mengemas dan menjual produk kulinernya. Pola kerja sama bisa dilakukan secara daring, atau kerja sama dengan penyedia aplikasi macam Gojek atau Go Food," kata Helmy dalam keterangannya, Jumat (21/9/2018).

Helmy menambahkan, dibandingkan dengan bidang usaha lain seperti industri proses, kreatif, atau agro yang memerlukan pelatihan secara khusus, industri kuliner dapat dimulai dengan bermodalkan passion.

"Modal usahanya juga tidak perlu besar, karena jika dipasarkan secara daring, tidak akan butuh ekstra tenaga lagi," papar pemilik gelar master of Professional Accounting dari Universitas Miami ini.

Saat ini pemerintah tengah menggalakkan sektor pariwisata sebagai destinasi unggulan. Sayangnya, di kompetisi DSC tahun ini, peserta di bidang industri pariwisata belum tumbuh secara signifikan.

Menurut Helmy, butuh upaya lebih keras dan waktu yang panjang untuk mengembangkan sebuah daerah potensi wisata menjadi destinasi wisata. Pengembangan di sini, kata dia, berarti juga harus menjadikan daerah itu bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar dan bertanggung jawab terhadap kelestarian alamnya.

"Hal-hal tersebut tidaklah mudah dan harus dilakukan berbagai sektor sehingga dalam pengelolaan pariwisata, kelihatannya kurang 'seksi' peminat," kata dia.

Presenter sekaligus Dirut TVRI ini menambahkan, pada DSC tahun ini dalam memberikan penilaian Dekom mengkurasi dan melihat kriteria model bisnisnya.

"Jadi ada di antara para peserta yang cara pemasaran produknya, sudah menggunakan sistem aplikasi. Ini yang membedakan seleksi DSC ke-9 tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

Perbedaan model bisnis sebagai dampak terjadinya disrupsi di bidang ekonomi, lanjut Helmy, turut jadi pertimbangan para juri. Menurutnya ada pengembangan pariwisata secara hybrid, sehingga pemesanan dilakukan melalui sistem aplikasi.

"Ada juga pengembangan jasa usaha bengkel yang peminatnya juga harus mengunduh sistem aplikasinya. Itu sebabnya kemasan sektor atau bidang usaha, perlu ikut menyesuaikan," kata Helmy.

Dalam kesempatan terpisah, juri lain DSC, Antarina S.F. Amir, yang merupakan License Holder, Founder, dan Deputy CEO Sekolah HighScope Indonesia juga menyampaikan, kalau ingin bisnisnya berkelanjutan, seharusnya peserta melihat peluang bisnis apa yang saat ini sedang diminati pasar.

"Itu semua menjadi 'pekerjaan rumah' kami, para juri DSC," tandasnya. [adc]

#KompetisiDSC #DiplomatSuccessChallenge
BERITA TERKAIT
Ini yang Bisa Rangsang Bayi Jadi Pintar
Tips Jitu Cara Mengasuh Anak Perempuan
(Korba Gempa dan Tsunami) Makanan Hingga Popok Bayi Sangat Dibutuhkan
(Banyuwangi) 20 Ribu Santri Siap Ramaikan Festival Santri 2018
(Tren Kecantikan) Banyak Perempuan Ingin Cantik Instan Tanpa Operasi
Gunakan BB Cushion, Pengaruhi Pori - Pori Wajah?
Kulit Tetap Sehat Meski Sering Berhias Wajah

ke atas