EKONOMI

Senin, 01 Oktober 2018 | 06:09 WIB

Pengusaha Akui Bisnis Properti Masuk Fase Lesu

Pengusaha Akui Bisnis Properti Masuk Fase Lesu
Presiden Komisaris Nayumi Group, Rusdi Basalamah (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Tahun ini, pasar properti kelihatannya sedang lesu pembeli. Khususnya untuk produk properti yang dibanderol Rp500 juta ke atas.

Presiden Komisaris Nayumi Group, Rusdi Basalamah di Jakarta, Minggu (30/9/2018), mengatakan, aktivitas bisnis properti masuk fase "istirahat", jika tidak ingin dikatakan mati suri. Hal ini menggambarkan bagaimana lesunya pembelian dalam dua-tiga tahun terakhir, terutama di properti berharga di atas Rp500 per unit.

Kondisi itu dialaminya di Banten dan Jawa Barat. "Bagusnya kita sudah menyelesaikan kewajiban-kewajiban utama, seperti fasilitas vital yang membutuhkan biaya, sehingga pada unit-unit yang belum terjual hanya dilakukan pemeliharaan saja," ujar Rusdi.

Meski demikian, pada unit di bawah Rp500 juta masih menggeliat, terutama pada apartemen segmen tertentu, seperti apartemen yang menyasar mahasiswa dan daerah wisata. "Saat ini ada kecenderungan mahasiswa tinggal/sewa apartemen karena lebih praktis, nyaman dan aman," ujar pemilik Nayumi Group yang membawahi 18 perusahaan.

Karena itu, Sabtu (29/9/2018), Nayumi melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) Nayumi Samtower (NST) di kawasan Soekarno Hatta, Kota Malang yang menyasar kalangan mahasiswa.

Proyek senilai Rp370 miliar itu berkonsep hotel, apartemen dan kawasan bisnis dalam satu kawasan di tanah 4.900 meter persegi dengan kolam renang di masing-masing tower, yakni Platinum dan Emerald dengan harga terjangkau, mulai dari Rp350 juta per unit. "Kita menyasar mahasiswa, karena itu harganya disesuaikan, tetapi dengan fasilitas berstandar hotel bintang tiga," ujar Rusdi.

Karena itu pula, lima bulan sejak diperkenalkan sudah terjual 35%. Dan, diharapkan naik menjadi 55% di akhir tahun setelah ground breaking.

Kelebihan apartemen, kata presenter dan penyiar radio Muhammad Farhan yang hadir di peletakan batu pertama, tidak sekadar disewakan bulanan atau tahunan, tetapi juga harian bagi keluarga, wisatawan atau pebisnis yang ingin merasakan suasana rumah. "Kondisi itu yang kini terjadi di Bandung, dimana apartemen disewakan harian seperti kamar hotel," ucap Farhan.

Kondisi itu sudah jamak di kota-kota besar seperti Jakarta, Kualalumpur dan Singapura dengan harga lebih murah tetapi dengan fasilitas keluarga.

Pemasarannya juga mudah karena sudah banyak jasa daring (online) yang berbiaya murah dan berjangkauan luas.

Kondisi ini, kata Rusdi, menjadikan bisnis properti pada segmen tertentu masih menggeliat dan bergairah. Dia berharap bisa kembali ke kondisi semula agar roda ekonomi berjalan normal dan tenaga kerja terserap maksimal. [tar]

#Properti #Perumahan
BERITA TERKAIT
Car Property Expo Tawarkan Hunian DP0 Rupiah
Rumah DP 0%, Tunggu Kejutan Gubernur Anies Besok
Menyambut Sunrise Properti di Jawa Timur
KLHK Dorong Peran Masyarakat dalam Perubahan Iklim
Penting! Partisipasi Masyarakat di Perubahan Iklim
Pemerintah Respons Aspirasi Peternak Ayam Petelur
Menteri LHK: PLTA Batangtoru tak Ganggu Orangutan

ke atas