PASAR MODAL

Kamis, 11 Oktober 2018 | 11:50 WIB

Emiten Ke-45, SKRN Resmi Listing di Pasar Modal

M Fadil Djailani
Emiten Ke-45, SKRN Resmi Listing di Pasar Modal
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Perusahaan penyedia jasa sewa crane, PT Superkrane Mitra Utama Tbk, hari ini (Kamis, 11/10/2018) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Melalui penawaran saham perdana atau Intial Public Offering (IPO), Superkrane berhak menyandang kode saham SKRN. Sepanjang 2018, SKRN adalah perusahaan ke-45 yang masuk lantai bursa. Capaian ini memecahkan rekor pencatatan saham dalam satu tahun kalender. Dan masih berpeluang bertambah karena masih ada sisa 2,5 bulan lagi.

Di perdagangan perdana, saham SKRN melejit 50% ke Rp1,050 per lembar saham, atau naik 350 poin dari sesi pembukaan senilai Rp700 per lembar saham.

Pada posisi tersebut, saham GOOD diperdagangkan 72 kali frekuensi dengan volume 33.099 lot. Transaksinya membukukan nilai Rp3,84 miliar.

Selang beberapa menit, saham SKRN merosot dari angka tertingginya yakni Rp1,050 per lembar saham, menuju level terendahnya yakni Rp705 per lembar saham pada pukul 09:06 WIB.

Dalam aksi korporasi tersebut, perusahaan berencana melepas 300 juta lembar saham, atau setara 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perseroan.

Dalam masa penawaran awal (bookbuilding) yang berlangsung pada 14 Agustus-20 September 2018, jumlah permintaan terbanyak yang diterima penjamin pelaksana emisi efek berada di kisaran harga Rp900-Rp1.260 per saham.

Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek IPO Superkrane Mitra Utama, yakni UOB Kayhian Sekuritas. Adapun penjamin emisi efeknya terdiri atas MNC Sekuritas, Phillip Sekuritas Indonesia, dan Valbury Sekuritas Indonesia.

Nantinya hasil IPO, dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran uang muka pembelian alat berat/crane sebesar 50%, pelunasan utang bank dan leasing termasuk pembayaran pinalti pelunasan utang tersebut 28,2%, dan sekitar 21,8% untuk modal kerja perseroan.

Direktur Utama Superkrane, Yafin Tandiono pernah bilang, IPO ini diambil sebagai langkah untuk strategi perusahaan dalam rangka meningkatkan jumlah armada yang dimilikinya dengan memperkirakan kebutuhan alat berat untuk peningkatan pembangunan infrastruktur ke depan. "Diperkirakan untuk beberapa tahun ke depan kebutuhan nasional akan alat berat lifting equipment khususnya crane akan terus bertambah," katanya.

Saat ini perusahaan terlibat dalam pengerjaan proyek pembangunan jalan tol, light rapid transit (LRT) dan mass rapid transit (MRT). Di tahun 2019, Superkrane membidik pendapatan di atas Rp700 miliar. Tahun 2018, target pendapatan kami Rp600 miliar yang sampai 18 September sudah tercatat Rp440 miliar, ujar Yafin Tandiono Tan.

Dia menjelaskan, kontributor utama pendapatan Superkrane berasal dari proyek-proyek infrastruktur seperti kereta ringan (light rail transit/LRT), Mass Rapid Transit (MRT), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan perluasan pabrik chemical plant. Lalu, proyek migas di Tangguh, pertambangan gas, serta pertambangan emas dan batubara.

Permintaan sewa crane tetap berjalan seiring maraknya pembangunan infrastruktur pemerintah, serta pembangunan PLTU dan migas di Tangguh, ujar dia. [ipe]

#SahamAlatBerat #SKRN #PasarModal
BERITA TERKAIT
PT Superkrane Bidik Pendapatan Rp600 Miliar
Raup Duit IPO Rp210 M, SKRN Siap Borong Alat Berat
PT Superkrane Bidik Pendapatan Rp600 Miliar
Rupiah Runtuh, Fundraising Pasmod Ngintili
Yen Tekan Pergerakkan Dolar AS
Inilah Beban Berat Wall Street
BUMI Bayar Angsuran Pinjaman US$52,88 Juta

ke atas