MOZAIK

Jumat, 12 Oktober 2018 | 06:00 WIB

Ingat! Di Atas Langit Masih Ada Langit

Ingat! Di Atas Langit Masih Ada Langit
(Foto: Ilustrasi)

"...Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, ada yang Maha Mengetahui..." (QS.Yusuf [12]: 76)

Imam Hasan al-Bashri ketika memaknai maksud ayat ini, sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya, mengatakan bahwa tiadakan orang alim, kecuali di atasnya ada orang alim lainnya, hingga ilmu itu terhenti kepada Allah Swt.

Di atas langit masih ada langit". Mungkin inilah ungkapan yang tepat untuk memaknai rangkaian ayat di atas. Secara lebih luas, makna ayat ke-76 dari surah Yusuf tersebut adalah bahwa apapun kelebihan yang dimiliki seseorang; ilmu, harta, prestasi, kedudukan dan sebagainya, di luar sana masih ada yang lebih tinggi dari dia.

Ketika ada orang yang memiliki ilmu pengetahuan begitu luas di suatu tempat, maka pasti ada orang lain yang lebih luas dan dalam ilmu pengetahuannya di tempat lain. Ketika ada orang kaya dengan harta melimpah di suatu daerah atau bahkan negara, pasti ada orang lain yang lebih kaya dengan harta yang lebih melimpah ruang di daerah atau negara lain.

Ketika ada orang yang memiliki kekuatan luar biasa di suatu benua, pasti ada orang lain yang lebih kuat dari kemampuan fisik yang jauh lebih hebat dari orang tersebut di benua lainnya. Inilah alasan kenapa rekor-rekor dunia selalu terpecahkan. Karena ada rekor-rekor baru yang lebih baik dari rekor sebelumnya. Ini sudah menjadi sunatullah (hukum Allah).

Kelebihan apapun yang kita miliki bukanlah untuk dibanggakan apalagi disombongkan, Al-Qur'an banyak memberi pelajaran berharga tentang hal ini.

Kita tentu ingat tentang kisah Nabi Musa as, dengan Nabi Khidir as, yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Betapa Nabi Musa as, yang merasa dirinya paling pintar di antara kaumnya, ditegur oleh Allah dengan cara dipertemukan dengan Nabi Khidir as. Dan ternyata, Nabi Musa as, tidak dapat mengikuti jalan pikiran Nabi Khidir as. Sampai akhirnya Nabi Khidir as sendiri memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan bersama Nabi Musa as, kemudian menjelaskan semua peristiwa yang dilaluinya bersama.

Kita juga tentu pernah mendengar kisah Nabi Sulaiman as, yang dengan kekayaan yang dimilikinya memohon kepada Allah agar diizinkan untuk menjamu seluruh makhluk Allah yang ada di wilayah kekuasaannya selama satu hari. Setelah diizinkan Allah, kemudian beliau menyediakan makanan sebanyak-banyaknya untuk menjamu makhluk Allah tersebut. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa panjang makanan tersebut setara dengan jarak tempuh perjalanan selama dua bulan dengan menggunakan kuda pacuan. Lebar makanan pun setara dengan jarak tempuh perjalanan dua bulan dengan kuda pacuan.

Setelah merasa cukup, kemudian beliau memanggil makhluk-makhluk Allah yang ada di darat dan di laut. Saat itu, Allah memerintahkan kepada seekor ikan bernama Nun untuk mulai menyantap hidangan yang disediakan oleh Nabi Sulaiman as. Tidak disangka, seluruh hidangan yang disediakan itu habis tak tersisa sedikit pun setelah disantap oleh ikan tersebut dalam waktu yang sangat singkat. Saat itulah Nabi Sulaiman as, tersadar bahwa apa yang dimilikinya itu tidak ada artinya dibandingkan kekayaan yang dimiliki Allah Swt. Zat yang Mahakaya.

Dari beberapa kisah tersebut, jelaslah bahwa semua yang kita miliki, baik berupa kekayaan, ilmu pengetahua, prestasi, kedudukan dan jabatan, tidak patut kita banggakan apalagi kita sombongkan di hadapan orang lain. Karena "di atas langit masih ada langit". Di atas semuanya, ada Allah Swt, yang Maha segala-galanya. [Didi Junaedi, Qur'anic Inspiration]

#Sombong
BERITA TERKAIT
Bentuk Balasan dari Dosa
Sudahkah Menghargai Istrimu?
Hati-hatilah Pada Dunia dan Wanita
Akhlak Bidadari Surga
Cinta Bukan Liontin Hati yang Bisa Kau Hadiahkan
Tiada Lagi Senyum yang Menghias dii Bibir
Ayo Tinggalkan! Dusta Mengantarkan Pada Kejahatan

ke atas