EKONOMI

Kamis, 11 Oktober 2018 | 19:08 WIB
(Jangan Lupakan Sejarah)

Blunder-blunder IMF Hancurkan Ekonomi Indonesia

Blunder-blunder IMF Hancurkan Ekonomi Indonesia
Mantan Menko ekuin era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli (Foto: Inilahcom/Didik Setiawan)

INILAHCOM, Jakarta - Menghadapi tantangan ekonomi saat ini, pemerintahan Joko Widodo sebaiknya bisa berdiri sendiri. Tak perlu ikut genderang IMF nanti terperosok seperti 1998.

Mantan Menko ekuin era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli memaparkan sejarah perekonomian Indonesia saat terjadi krisis 1998.
"Krisis itu kalau kita tangani sendiri, yang tadinya (perekonomian) tumbuh rata-rata 6%, ekonomi Indonesia paling akan anjlok 2%-0%. Akan tetapi, karena kita mengundang IMF, ekonomi Indonesia malah anjlok hingga 13% (minus)," papar Rizal.

Pada Oktober 1996, Rizal Ramli sebagai Chairman Econit Advisory Group, merilis 100 halaman forecast ekonomi Indonesia bertajuk 1997: The Year of Uncertainty.

Dia memprediksikan bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami krisis ekonomi pada 1997-1998. Sayangnya, tidak ada yang percaya atas pandangan mantan Menko Kemaritiman Kabinet Kerja ini. Setahun kemudian, ramalannya menjadi kenyataan,

Forecas tentang ekonomi 1997 dibantah habis-habisan oleh Departemen Keuangan, Bank Indonesia (BI), serta para analis asing. Disebut mengada-ada dan tidak benar. Alasannya, fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat.

Padahal, RR mencemaskan tiga hal yang memburuk di perekonomian RI. Yakni, utang swasta, current account defisit (CAD), serta overvalued rupiah.

Akhirnya, sesuai ramalan RR, terjadi krisis besar 1997/1998. Pertumbuhan ekonomi anjlok dari rata-rata 6% ke -13%, karena salah saran & kebijakan IMF.
Untuk menyelamatkan perbankan, digagaslah Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar $80 miliar. Inilah biaya penyelamatan bank yang terbesar terhadap GDP. Masalah serius lainnya adalah perusahaan banyak yang bangkrut, penggangguran naik 40%.

Pada Oktober 1997, Rizal adalah satu-satunya ekonom Indonesia yang berani menolak pinjaman IMF dalam pertemuan para ekonom di Hotel Borobudur dengan Managing Director IMF, Michael Camdessus

Feeling ekonomi Rizal, ada benarnya juga. Perekonomian Indonesia semakin rusak di bawah IMF. Keputusan untuk mengundang dan ngutang ke IMF merupakan kesalahan terbesar Widjoyo dkk yang membujuk Presiden Soeharto untuk mengundang IMF.

Di mana, IMF menyarankan berbagai program kebijakan yang tak masuk akal. Membuat ekonomi nasional justru semakin terpuruk.

IMF bikin blunder karena menawarkan paket dgn syarat banyak sekali, susah dipenuhi, mengada-ada, pemerintah terpaksa manut. Semisal, kebijakan melikuidasi 16 bank kecil justru menghancurkan kepercayaan masyarakat.

Alhasil, terjadi penarikan dana besar-besaran atau rush. Dalam sekejab, bank-bank banyak yang kolaps.

Pinjaman IMF sebesar US$35 miliar, digembar-gemborkan untuk membantu perekonomian Indonesia. Semua pejabat, ekonom & media percaya dengan propaganda tersebut. Ternyata, dana tersebut dipakai untuk membayar utang swasta Indonesia di bank-bank asing yang belum jatuh tempo.

Dengan kata lain, duit IMF itu digunakan untuk menyelamatkan bank-bank asing, bukan menolong perekonomian rakyat Indonesia. Padahal, seharusnya, dana pinjaman IMF sebesar US$35 miliar itu dialokasikan untuk memompa perekonomian RI, bukan untuk menyelamatkan bank-bank asing.

Walhasil, beban ekonomi Indonesia mendapat tambahan pembiayaan Rp350 trilliun (kurs Rp10.000/US$). Di situlah, perekonomian Indonesia mungsret hingga minus 13% pada 1998.

Pada 1 Mei 1998, IMF membujuk Indonesia untuk menaikkan harga BBM jenis premium (bensin) hingga 74% dan minyak tanah 44%.
Seminggu sebelumnya, RR diundang Asian Director IMF, DR Hubert Neiss di Grand Hyatt. Ternyata, Neiss membujuk RR untuk mendukung usulan tersebut. Namun, Rizal menolak, bahkan mengingatkan adanya potensi kerusuhan sosial.

Lalu apa kata Neiss? DR Ramli, you are aggregating. Mendengar ini, RR menimpali. Just take a note of what I said!

Bak kerbau dicocok hidungnya, pemerintah manut apa kata IMF. Pada 1 Mei 1998, pemerintah menaikkan harga bensin 74% dan minyak tanah 44%.

Keesokan harinya terjadi demonstrasi besar-besaran, menolak kenaikan harga BBM di Makassar, Sulawesi Selatan. Tak perlu waktu lama, aksi massa ini menjalar ke seluruh Nusantara.

Pada 4 Mei terjadi di Medan, 9 Mei terjadi chaos di Solo. Puncaknya pada 2 Mei terjadi kerusuhan di jakarta. Ini apa yang disebut literatur IMF Provoked Riots.

Malaysia yang tersambar krisis 1998, menolak saran IMF, atas saran DR Zeti Acting, Governor Central Bank. Lantaran itulah,
Malaysia selamat dari krisis, ringgit dan ekonominya bisa stabil.

Demikian pula Presiden Korsel kala itu Kim Dae Yung, membawa 100 pengutang untuk restrukturisasi utang ke New York. Korea Selatan pun selamat. Tapi, Indonesia yang manut IMF, paling hancur.

Hari ini, 20 tahun kemudian, masih banyak komprador dan SPG IMF di pemerintahan, elit dan media, baik yang paham maupun sekedar menjadi speakers.

Rizal menyebut semi krisis hari ini, bisa berkembang dan berujung kepada pinjaman IMF lagi. Tentu saja, level kerusakan bakal lebih dahsyat ketimbang 1998. jadi, pemerintah janganlah melupakan sejarah. Belajarlah dari sejarah

Di Eropa, IMF mengeluarkan kebijakan austerity yang bikin bangkrut Yunani. Membuat warga Yunani, Spanyol, Portugal dan Italia, tiba-tiba menjadi gelandangan. Yang tidur di taman-taman kota, karena tidak mampu membayar sewa apartemen. Lalu, bagaimana Indonesia?[ipe]

#PresidenJokowi #IMF #WorldBank #Rizalramli
BERITA TERKAIT
Benahi Daerah Eks Bencana, Pemerintah Ngutang ADB
Paket Ekonomi Jilid XVI Jokowi Merusak UKM
Investasi Jeblok, Jokowi Dorong Paket Ekonomi XVI
(Perlu Dana Jumbo) Jokowi Dorong Inovasi Pembiayaan Infrastruktur
Paket Ekonomi Jokowi Lahirkan Kanibalisme UMKM
Paket Ekonomi XVI, Pancing Investasi Korbankan UKM
(Pakert Ekonomi Jilid XVI) Era Jokowi, UKM Bukan Lagi Milik Wong Cilik

ke atas