MOZAIK

Jumat, 12 Oktober 2018 | 17:37 WIB

Jangan Rusak Bahagiamu

KH Ahmad Imam Mawardi
Jangan Rusak Bahagiamu
(Foto: ilustrasi)

SAHABAT dan saudaraku, selamat sore dan selamat memasuki rahim malam. Bagi sebagian orang, malam adalah saat istirahatnya badan. Bagi sebagian yang lain, malam adalah saat beristirahatnya jiwa.

Bagi yang lainnya lagi, malam adalah saat membebaskan jiwa dari kungkungan nafsu serakah yang berlomba demi memuaskan ego. Saya tak tahu saya sendiri masuk yang mana. Setelah tadi pagi dan siang mengisi acara di Batu Malang, kini harus "mengukur jalan" menuju bibir pantai ujung Madura.

Tergerak hati untuk bertutur berbagi nasehat agar kita semua mampu menjaga kelestarian hati kita. Pernah guru saya berkata: "Jangan rusak indahnya anugerah saat ini dengan kegelisahan karena memikirkan saat nanti." Nikmati dan syukuri apa yang ada saat ini. Ucapkan untuk sesuatu yang akan terjadi saat nanti: "Aku tawakkal kepada Allah."

Kalimat yang semakna dengan kalimat guru tadi adalah kata para pujangga: "Cerahnya sinar mentari hari ini janganlah engkau rusak dengan kabar tentang kemungkinan mendung esok hari." Kemungkinan adalah kemungkinan, yang memiliki banyak kemungkinan dalam hal saat, bentuk dan ukuran. Lalu mengapa kita harus merusak bahagia kita dengan ketakutan akan kemungkinan yang masih belum jelas?

Jalani takdir, nikmati anugerah, syukuri nikmat maka harum semerbak bunga bahagia akan selalu mengiringi langkah hidup kita. Allah, Tuhan kita, adalah Tuhan Yang Mahabaik yang senantiasa melihat dan mengatur hidup kita dengan aturan yang terbaik. Ikuti aturanNya maka kita akan selalu merasakan kebaikanNya. Tak ada ujian yang tak berakhir, tak ada sakit yang tak tersembuhkan, dan tak ada pinta yang tak dikabulkan jika kita senantiasa bersamaNya. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Dengan Siapa Bergaul Merasakan Manisnya Iman?
Kapal Titanik, Kapal Popay dan Kapalku Kini
Lambaian Tangan yang Tak Perlu Dilakukan
Kisah Terindah
Membunuh Waktu Mengais Hikmah dari Senior
Mengkritik Imam Al-Ghazali yang Tak Pernah Perang
Haruskah Kita Ikuti Kisah Sukses Orang Lain?

ke atas