MOZAIK

Senin, 15 Oktober 2018 | 14:00 WIB

Menunda Amal Baik Penyakit Hati Sangat Tercela

Menunda Amal Baik Penyakit Hati Sangat Tercela
(Foto: ilustrasi)

TASWIF adalah menangguhkan amal baik sampai waktu yang diinginkan, padahal saat itu seseorang sudah mampu dan tidak ada halangan untuk melakukannya.

Sikap ini termasuk penyakit hati yang sangat tercela, apalagi jika yang ditangguhkannya itu amal-amal akhirat, seperti menangguhkan tobat sampai puas berbuat dosa, menangguhkan infak sampai kaya terlebih dahulu, menangguhkan salat sampai betul-betul tidak sibuk, menangguhkan menutup aurat sampai menjadi tua.

Sikap taswif mengakibatkan hal-hal berikut:
1. Meninggalkan amal ibadah. Karena, apa yang tersirat dalam hati itu sebenarnya tipuan setan untuk melemahkan kemauan seseorang, menghabiskan waktu, dan membuatnya lelah dengan kesibukan lain sehingga kekuatan untuk melaksanakan ibadah menjadi terkuras.

2. Tidak sungguh-sungguh dalam beribadah. Ibadah dianggapnya belum perlu dilakukan.
3. Pesimis dalam setiap pekerjaan.
4. Tertinggal oleh orang yang sudah berlomba dan bersegera meraih kesuksesan.

Allah dan Rasul-Nya membenci sikap ini. Artinya, kita mesti bersegera menjalankan kebaikan. Allah berfirman, "Bersegeralah kamu pada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga." (QS. Ali Imran, 133).

Rasulullah Saw bersabda, "Kamu harus mengambil keuntungan dari yang lima sebelum datang yang lima, yaitu (1) ambil keuntungan masa mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) ambil keuntungan waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, (3) ambil keuntungan masa kayamu sebelum datang masa fakirmu, (4) ambil keuntungan waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan (5) ambil keuntungan dari hidupmu sebelum datang masa kematianmu." (H.R.Hakim) [Uwes Al-Qorni, 60 Penyakit Hati]

#Amal #PenyakitHati
BERITA TERKAIT
Penyebab tak Tercatatnya Amal Selama di Dunia
Memahami Jenis Tangisan Agar Tak Tertipu Air Mata
Syair: Aroma Rimba
Ini Landasan Bumi saat Mi'raj ke Sidratul Muntaha
Berkahnya Kiblat Umat Islam sebelum Ka'bah
Kenapa Yahudi Tak Berhak atas Al-Aqsa?
Mengakui Lewat Lisan, Menolak dalam Hati

ke atas