MOZAIK

Sabtu, 17 November 2018 | 01:11 WIB

Bersihkan Hati

KH Abdullah Gymnastiar
Bersihkan Hati
(Foto: Istimewa)

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah Swt. Tiada yang patut disembah selain Allah, dan tiada yang bisa dijadikan tempat meminta pertolongan, kecuali hanya Allah. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, puncak kesuksesan seseorang itu alat ukurnya adalah perjumpaan dengan Allah Swt. Ingatlah pada salah satu firman Allah di dalam Al Quran, (Yaitu) hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan qolbun saliim (hati yang bersih). (QS. Asy Syuaro [26]: 88-89).

Dalam ayat-Nya yang lain Allah Swt. berfirman,Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikian jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. Asy Syams [91]: 7-9).

Kesuksesan sejati adalah manakala Allah ridho kepada kita dan kita berjumpa dengan-Nya. Maka kunci sukses ada pada kegigihan menjaga kebeningan hati, agar sekecil apapun amal kita bisa diterima oleh Allah. Allah Yang Maha Mengetahui tidak akan menerima amal kecuali amal yang ikhlas. Amal besar akan sia-sia jikalau tidak ikhlas.

Hati bisa kotor baik sebelum beramal, sedang beramal atau setelah beramal. Kotor hati sebelum beramal yaitu niat yang salah. Misalnya, kita bersedekah, tapi niatnya ingin disebut dermawan, takut disangka pelit, atau supaya tidak diganggu.

Kotor hati ketika sedang beramal yaitu riya (pamer, ingin dilihat). Misalnya, kita ingin dilihat orang saat sedekah ratusan ribu, ingin diketahui orang jika mengeluarkan zakat dalam jumlah besar. Padahal berzakat itu bukan sebuah prestasi karena zakat adalah kewajiban, jika tak menunaikan berarti berdosa.

Kotor hati setelah beramal yaitu pertama, menceritakan amal, misalnya menceritakan jumlah sedekah. Menceritakan kebaikan boleh saja, tapi Allah Maha Tahu niat di balik setiap cerita, apakah niatnya mengajak orang lain sedekah atau ingin disebut ahli sedekah. Atau, menceritakan tentang seringnya kita beribadah umroh. Kalau niatnya memotivasi orang yang lain, mudah-mudahan menjadi amal kebaikan, tapi kalau sekadar untuk pamer, bisa jadi kita justru lebih buruk dari orang yang belum beribadah umroh.

Kedua, takabur yaitu merasa diri bisa berbuat, merasa lebih dengan merendahkan orang lain. Misalnya kita merasa berjasa lantaran menyekolahkan, memberi pekerjaan, atau mengajari seseorang. Padahal hakikatnya Allah-lah yang berbuat, kita hanyalah dijadikan jalan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya.

Ketiga, ujub yaitu merasa diri berbeda dari yang lain, mungkin tidak berbicara/menceritakan, tapi hati kecilnya merasa lebih dari yang lain. Misalnya, kita rajin membaca Al Quran, shaum atau tahajud, tapi ketika melihat ada orang yang jarang membaca Al Quran, shaum atau tahajud, hati kecil kita meremehkannya dan kita merasa paling sholeh. Padahal hanya Allah Yang Maha Tahu siapa yang lebih ikhlas dalam beramal di antara hamba-hamba-Nya. Karenanya kita tak cukup bisa beramal, kita juga harus menjaga penyakit hati di awal, di tengah, maupun akhir amal-amal kita.

Ketika hati kita bersih, orang menghargai kita insyaa Allah karena kemuliaan pribadi kita. Tetapi yang terpenting adalah hati yang bersih akan membuat amal kita diterima oleh Allah dan Allah berkenan menjamu kita di akhirat kelak. Tiada kesuksesan kecuali orang yang berhasil berjumpa dengan Allah, buah dari qolbun saliim, hati yang selamat, yang bersih dari kebusukan.

Ya Allah, jauhkan hati ini dari segala kebusukan hati. Berikan kepada kami kebahagiaan seperti nikmat yang Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang sholeh. Berikan kepada kami kesanggupan rendah hati dan kenikmatan beramal dengan tulus dan ikhlas. Aamiin yaa Robbal aalamiin. [smstauhiid]

#InilahKehidupan #AaGym
BERITA TERKAIT
Menjemput Rezeki Dengan Berkah
Ilmu yang Menyinari
Amal Kecil Bernilai Besar
Ikhlas yang Sempurna
Peka pada Ladang Amal
Senang pada Kebaikan
Menyikapi Perbedaan

ke atas