EKONOMI

Jumat, 09 November 2018 | 05:09 WIB

Peternak Layer Pertanyakan Impor Jagung 10Ribu Ton

Peternak Layer Pertanyakan Impor Jagung 10Ribu Ton
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Impor jagung 100 ribu ton, membuat kesal Forum Peternak Layer Nasional. Dianggap kontraproduktif karena kementerian pertanian setuju impor namun menyangkal kelangkaan jagung di pasaran.

Presidium Forum Peternak Layer Nasional, Ki Musbar Mesdi menilai, sikap Kementan tidak adil. Di satu sisi, mengimbau peternak layer untuk meningkatkan produksi untuk menghindari impor daging maupun telur ayam ras. Di sisi lain, Kementan menghambat turunnya surat rekomendasi impor yang telah disepakati, karena adanya kontradiksi di internalnya.

Kita menggugat ketidakadilan Kementan dalam memenuhi kebutuhan kami. Masak untuk hal yang segenting ini, menyangkut kepentingan nasional, hampir seminggu rekomendasi impor enggak turun-turun. Ada apa sebenarnya? keluhnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Ki Musbar mengingatkan, dengan harga jagung yang saat ini mencapai Rp5.800 per kilogram, harga telur yang merupakan salah satu sumber protein utama nasional, kemungkinan harus naik di Desember ini. Karena, biaya jagung berkontribusi 50% dari total biaya produksi pakan. Nanti Desember harga bisa Rp40 ribu. Karena dari farmgrade Rp30 ribu, kata Ki Musbar.

Untuk itulah, ia mendesak agar surat rekomendasi impor dapat segera diturunkan. Tidak dapat disanggah, peternak layer membutuhkan kejelasan suplai jagung sampai akhir tahun nanti.

Terus berulangnya kejadian kelangkaan jagung pun membuat paternal memandang Mentan Amran Sulaiman tidak bisa mengantisipasi rutinitas tahunan ini. Pasalnya, tiap tahun di kisaran bulan JuliOktober, harga jagung memang biasa naik. Ki Musbar pun bingung dengan pernyataan Mentan yang menganggap impor 50-100 ribu ton dalam rekomendasi adalah jumlah yang sangat kecil. Di mana angka tersebut tidak bisa dipandang bahwa stok jagung nasional mengalami kondisi defisit.

Itu katanya jumlah kecil. Padahal, Ditjen Tanaman Pangan mencari 1.000 ton saja sampai 14 hari. Itu di Blitar, tukas Ki Musbar lagi.

Saat sidak di Pasar Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (8/11/2018), Amran menegaskan, impor jagung sebanyak 100 ribu ton bukan karena tidak ada produksi. Faktanya menyebutkan bahwa Kementan sukses menyetop impor jagung 3,7 juta ton.

Adanya impor jagung 100 ribu ton menjelang akhir tahun ini, sekadar untuk mengontrol kestabilan harga. Ini juga merupakan respons dari demo hampir 2 juta peternak di Blitar yang mengatakan mahalnya jarga jagung.

Sebentar lagi kita panen raya lagi ini sebagai kontrol saja. Jangan judulnya pemerintah impor 100 ribu ton, titik, tegas Amran kepada media di Cipinang, Kamis (8/11).

Sebelumnya, Menko Perekonomian, Darmin Nasution menegaskan, keputusan mengimpor jagung 100 ribu ton dalam rakortas, berdasarkan rekomendasi dari Kementan. Ia pun meminta Mentan Amran tidak membelokkan fakta tersebut.

Jangan menyalahkan yang lain. Kalau harga naik itu ada yang kurang, sederhana saja. Surplus itu besar sekali angkanya, 13 juta ton. Tapi buktinya, harga naik terus. Apa kesimpulannya? Kamu simpulkan sendiri," ketus Darmin kepada wartawan, Rabu (7/11/2018) malam.

Ia menceritakan, pihaknya sempat mempertanyakan rekomendasi impor yang diminta Kementan. Kementan berkelit dengan menyatakan bahwa rekomendasi dibuat karena banyak protes akan mahalnya jagung di pasaran. (Saya minta) Buat surat dong, jangan nanti tiba-tiba enggak mengaku," ujar Darmin.[tar]

#PeternakLayer #Impor #Jagung #PakanTernak
BERITA TERKAIT
Ini Alasan Migas Jadi Penyumbang Rutin Defisit CAD
Defisit Neraca Dagang Oktober Capai US$1,82 M
Tuduhan Feedmill Picu Mahalnya Jagung Tak Bernalar
Ogah CAD Membesar, Sri Mulyani Dorong Duit Masuk
Gaduh Data Pangan, Ombudsman RI Buka Suara
Lobang CAD Menganga, BI Salahkan Impor Minyak
(Bantuan ke Peternak) Kementan Gaet Bulog dan Industri Salurkan Jagung

ke atas