EKONOMI

Selasa, 27 November 2018 | 08:03 WIB

Bisnis Ekraf Jadi Penggerak Ekonomi ke Depan

Wahid Ma'ruf
Bisnis Ekraf Jadi Penggerak Ekonomi ke Depan
Noor Achmad (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Serang - Komisi X DPR, yakin ekonomi kreatif (ekraf) akan menjadi primadona pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebab, ekraf mengalami pengembangan yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 hingga 2015, besaran Produk Domestik Bruto (PDB) ekraf naik dari Rp525,9 triliun pada tahun 2010 menjadi Rp852,2 triliun di tahun 2015. Artinya mengalami peningkatan rata-rata 10,14 persen per tahun.

Sektor tenaga kerja ekraf pun mengalami pertumbuhan 2,15 persen. Dengan jumlah tenaga kerja ekraf tahun 2015 sebesar 15,9 persen dan dipediksi meningkat mencapai 17,2 juta pada tahun 2019.

Untuk mewujudkan target capaian pengembangan ekraf, maka harus ditopang dengan iklim usaha nasional yang kondusif dengan regulasi yang berpihak kepada ekraf, ungkap Noor Achmad usai memimpin pertemuan Tim Kunspek Komisi X DPR RI dengan Gubuernur Provinsi Banten di Serang, Banten, seperti mengutip dpr.go.id.

Untuk itu, dijelaskan Noor Achmad, dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Ekonomi Kreatif (RUU Ekraf), pihaknya sengaja pergi ke beberapa daerah, salah satunya Provinsi Banten, guna mendapat berbagai data dari berbagai sumber untuk memperkaya perspektif dalam pemabahsan RUU Ekraf.

Masukan sangat diperlukan untuk mendukung pembahasan RUU Ekraf. Kami menanyakan, bagaimana pengelolaan ekraf dan pertumbuhan ekraf di kabupaten/kota khususnya di Banten. Bagaiman regulasi yang berlaku dalam mengelola dan mengawasi ekraf, jelas legislator dapil Jawa Tengah itu.

Dalam kesempatan yang sama Gubernur Provinsi Banten, Wahidin Halim mengatakan setiap daerah berlomba-lomba mengembangkan ekonomi kreatif. Banten yang terdiri dari 8 kabupaten/kota pun turut mengembangkan ekonomi kreatif melalui industri budaya, pariwisata dan kriya.

Untuk terus mengembangkan ekraf, ada beberapa hal yang perlu diatur dalam RUU Ekraf nantinya, pertama yang menjadi msalah utama adalah pemasaran. Kedua, cara melindungi Hak Intelektual (HaKi) produk ekonomi kreatif. Ketiga, spesifikasi dari masing- asing daerah agar tidak terjadi overlapping. Terakhir, perlu ada pelatihan dalam melakukan packaging, jelas mantan Anggota DPR RI itu.

Wahidin menjelaskan ekonomi kreatif adalah induststri yang bersumber pada kreativitas, keahlian dan bakat individu yang memiliki potensi untuk menciptakan kesejateraan dan kesempatan kerja melalui penggunaan intellectual property and conten.

Pertumbuhan Industri Mikro Kecil (IMK) yang tinggi ditopong oleh bisnis online atau kreatif. Bisnis online turut memberikan andil meningkatnya aktifitas ekonomi Banten beberapa tahun belakangan ini, ungkapnya.

#BisnisEkraf #Ekraf #Pengangguran #EkonomiDigital
BERITA TERKAIT
Bamsoet Ingatkan Pebisnis Bayar Pajak Digital
Bekraf: Angkanya Kecil, Jangan Galau Pajak Digital
(Terbang ke Riyadh) Rudiantara Ajak Bos Arab Bangun Ekonomi Digital
Subsidi Cuman Rp1.000, Solar Bisa Naik Tahun Depan
Dukung Industri Otomotif, SDB Unjuk Produk GIIAS
Sinergi Bea Cukai dan BNNP Sumut Ungkap 6 Kg Sabu
Paceklik Ekspor Minyak Sawit RI, Sampai Kapan?

kembali ke atas