MOZAIK

Minggu, 09 Desember 2018 | 00:08 WIB

Mengkritik Imam Al-Ghazali yang Tak Pernah Perang

KH Ahmad Imam Mawardi
Mengkritik Imam Al-Ghazali yang Tak Pernah Perang
(Foto: Ilustrasi)

BEBERAPA tahun lalu saat debat dan diskusi tentang partai Islam dan politik Islam mulai panas, ada seorang aktifis politik yang menyampaikan keheranannya kepada saya akan Imam al-Ghazali yang terkenal itu. Dia heran dan mengkritik Sang Hujjatul Islam yang dalam hidupnya tidak pernah diberitakan ikut jihad di medan perang.

Emosi kesantrian saya tersulut. Dalam dunia santri, Imam al-Ghazali adalah rujukan utama kajian keislaman, khususnya di bidang tashawwuf. Tak akan pernah kita mendengar kritik akan jalan hidup beliau. Mengkritik beliau akan dianggap sebagai su'ul adab. Kalaupun tidak setuju dengan beliau, pastilah kalimatnya bukanlah kalimat yang merendahkan beliau, bahkan tetap menghormati beliau dengan segala perbedaannya.

Semangat sekali sang aktifis memaparkan hal-hal yang dianggapnya sebagai kekurangan sang Imam. Bibirnya pun saat bicara dicibirkan sebagai penanda sinis. Seakan di benaknya ada rumus paten bahwa orang baik haruslah ikut perang. Kalau tidak ikut perang, orang itu tidaklah baik dan bahkan tidak beriman. Padahal, mungkin saja ada alasan mengapa tidak ikut perang dan mungkin saja perang di zamannya tidaklah memiliki anasir yang sama dengan perang jihad di jaman Rasulullah dan sahabat. Atau bisa saja ada rationale lain yang perlu dipahami lebih dalam. Tak ada yang meragukan kealiman Imam al-Ghazali.

Tulisan ini bisa panjang. Bahkan bisa menjadi disertasi tentang mengapa Imam al-Ghazali tak ikut dan bahkan tak membahas perang salib yang terjadi di zamannya. Namun, tulisan ini hanya ingin menyentuh sedikit pada tulisan di media sosial yang menyatakan bahwa yang tidak ikut aksi demo 212 adalah orang yang tidak beriman atau imannya dipertanyakan. Apa iya begitu? Selamat pagi, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Membunuh Waktu Mengais Hikmah dari Senior
Mengkritik Imam Al-Ghazali yang Tak Pernah Perang
Haruskah Kita Ikuti Kisah Sukses Orang Lain?
Waktu adalah Uang
Menghormati, Menghargai dan Tak Menyakiti
Berbekallah untuk Perjalananmu
Manusia Penuh Berkah, Bagaimanakah Dia?

ke atas