EKONOMI

Kamis, 06 Desember 2018 | 16:45 WIB

Bankir Pelat Merah Ramal Kredit 2019 Flat

Indra Hendriana
Bankir Pelat Merah Ramal Kredit 2019 Flat
Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo bilang, pertumbuhan kredit 2019 tak jauh beda dengan 2018. Di kisaran 13%-14%.

Menurut dia, kondisi itu tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Mungkin kami berespektasi akan flat atau bahkan sedikit menurun dari tahun ini. Karena memang likuiditasnya mungkin agak sedikit tight, kata Tiko, sapaan akrabnya di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Tiko mengungkap, pertumbuhan kredit 2019 yang flat, atau bahkan bisa menurun, dikarenakan pengetatan likuiditas. Sehingga bedampak kepada seretnya kredit.

Kondisi tersebut, kata dia, membuat perbankan tidak benar-benar leluasa bergerak, khususnya dalam menyalurkan kredit. Lantaran tidak diimbangi dengan derasnya Dana Pihak Ketiga (DPK). "Likuiditasnya mungkin agak sedikit ketat. Karena Loan to Deposit Ratio (LDR) kan sudah 192 persen," kata dia.

Meski demikian, Tiko masih optimis bahwa kuartal II-2019, likuiditas semakin mengilap. Karena banyak dana masuk melalui pasar saham. Ini ada harapan ada sumber pertumbuhan uang yang baru dari portofolio yang masuk. Jadi harapan tahun depan, setelah Lebaran dan Pilpres semoga nanti likuiditas bisa melonggar," ujar dia.

Sebelumnya, Direktur Keuangan bank bersandi emiten BMRI, Panji Irawan mengatakan, proyeksi pertumbuhan kredit 2019 akan lebih rendah ketimbang 2018. Karena, perbankan menghadapi sejumlah risiko. Diantaranya adalah risiko suku bunga, nilai tukar dan likuiditas, kata Panji.

Informasi saja, hingga kuartal III-2018, pertumbuhan kredit BMRI bertengger di level 13,8% (year on year/yoy). Atau bergerak dari Rp686,2 triliun (kuartal III-2017) menjadi Rp781 triliun.

Pertumbuhan kredit didorong beberapa sektor. Antara lain dari bisnis internasional yang tumbuh 276% (yoy) menjadi Rp3,8 triilun. Kemudian dari kredit large corporate dan kelembagaan yang naik 27,6% (yoy) menjadi Rp301,4 triliun.

Selanjutnya pertumbuhan kredit sampai kuartal III-2018 didorong kredit mikro yang tumbuh 27,1% (yoy), menjadi Rp97,5 triliun. Kemudian, kredit anak usaha tumbuh 20,1% (yoy) menjadi Rp96,4 triliun.

Terakhir, kredit konsumer tumbuh 12,7% (yoy) menjadi Rp85 triliun. Sedangkan dua segmen kredit yang masih turun sampai kuartal III-2018, adalah dari UKM turun 6,8% (yoy) menjadi Rp55 triliun; kemudian middle corporate turun 9,9% (yoy) menjadi Rp141,9 triliun. [ipe]

#BankMandiri #Kredit #BUMN
BERITA TERKAIT
Satgas Saber Pungli Usut Dugaan Pungli di BUMN Ini
Generasi Millenial Penting untuk Pengembangan BUMN
Gaduh Utang BUMN Rp5.000 T, Menteri Rini Melawan
Sudirman Said: Mustinya BUMN Dikelola Profesional
Utang BUMN Rp5.000 T, Sandi: Mengkhawatirkan
(Jadi Alat Politik) Pemerintah Dinilai Keliru Kelola BUMN
Hadapi Kasus Hukum, Geo Dipa Gandeng Kejagung

ke atas