NASIONAL

Kamis, 06 Desember 2018 | 17:25 WIB

Di Balik Pesan Sarkas 'Jainudin Nachiro'

R Ferdian Andi R
Di Balik Pesan Sarkas 'Jainudin Nachiro'
Presiden Jokowi saat menyanyikan sepenggal lagu Deen Assalaam

INILAHCOM, Jakarta - Pemilu 2019 telah menghadirkan khazanah berbeda dengan pemilu sebelumnya. Politisi tampil dengan wajah berbeda. Targetnya mendekatkan diri dengan pemilih. Hal itu pula yang tercermin dari frasa yang belakangan ramai yakni Jainudin Nachiro.

Jainudin Nachiro belakangan ramai menjadi perbincangan hangat warga internet (internet citizen). Tak urung, Wakil Ketua DPR Fadli ZOn menulis puisi Jainudin Nachiro Namamu. Di platform media sosial, jika mengetik tulisan Jainudin Nachiro maka akan muncul sejumlah unggahan dari warga internet. Nada sarkas yang muncul.

Menurut penelurusan asal muasal istilah Jainudin Nachiro merujuk pada Presiden Jokowi saat menyanyikan sepenggal lagu Deen Assalaam yang dinyanyikan ulang oleh Grup Gambus Sabyan. Jokowi menyanyikan lagu tersebut saat pidato dalam acara Festival Bintang Vokalis Gambus Tingkat Nasional ke XXIII, pada Kamis (29/11/2018) pekan lalu di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyinggung grup gambus fenomenal bergaya milienal yakni Sabyan Gambus. Jokowi mengaku telah melihat video Sabyan Gambus di Youtube. Ia menyebut, saat membuka Youtube Sabyan telah mencapai 174 juta penonton.

Nah, usai menuturkan soal Sabyan Gambus, Jokowi menyanyikan sepenggal bait Deen Assalam. Abtahiyyat Wabsalam, Ansyaru ahlal Kalam, Jainudin Nachiro, sudah saya hanya fahal itu, Saya hanya hafal reff nya seterusnya, bapak ibu suaranya lebiih bagus dan lebih pintar, ucap Jokowi yang disambut gemuruh peserta kegiatan tersebut.

Rupanya, nyanyian Jokowi itulah yang memunculkan kata Jainudin Nachiro yang belakangan populer bagi warga internet. Pelafalan Jokowi tampak kurang tepat atas lagu yang dipopulerkan pertama kali oleh Sulaiman al-Mughni itu, semestinya melafalkannya dengan Zainu Dinyahtirom. Pelafalan kurang tepat Jokowi ini memunculkan sarkasme bagi warga internet terhadap Jokowi.

Kesalahan pelafalan Jokowi ini tidak kali ini saja terjadi. Saat membuka Musabaqoh Tilawatil Qur'an (MTQ) pada awal Oktober lalu, Jokowi mengajak hadirin untuk mengirim doa dengan membaca surat al-fatihah kepada korban gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Saya mengajak bersama-sama, marilah kita mengirimkan Al-Fatihah untuk korban bencana alam dan para keluarga yang selamat agar diberi kesabaran dan ketabahan. Ala hadiniyah Al-Fatekah, kata Jokowi, Senin (8/10/2018).

Sebelumnya, pada 2017 di forum Tanwir Muhammadiyah yang dilaksanakan di Ambon, Jokowi saat mengawali pidatonya mengucapkan lafal la haula wa la quwwata illa billah tampak terdengar menjadi La kalaw kalaw kata ila billah. Pelafalan Jokowi itu juga sempat ramai diperbincangkan oleh publik.

Kesalahan pelafalan tidak hanya dimonopoli Jokowi saja. Prabowo saat sambutan di Reuni 212 pada 2 Desember akhir pekan lalu juga salah pelafalan saat menyebut Rasulullah Shallaallhu Alaihi Wassalam. Kala itu Prabowo menyebut Rasulullah hulaihi. Meski, secara terbuka Prabowo mengaku bila dirinya tidak bagus dalam pemahaman agama Islam. Pengakuan itu ia sampaikan saat di hadapan forum Ijtima' Ulama pada 27 Juli 2018 lalu.

Saya agak grogi hari ini karena jarang saya bicara dengan ulama, biasanya saya bicara (sebagai) TNI purnawirawan, agak grogi juga. Karena memang saya akui, saya tidak berasal dari pesantren, mungkin agama Islam saya kurang bagus, aku Prabowo kala itu.

Pesan penting dari Jaenudin Nachiro yang belakangan ramai diperbincangkan, semestinya para kandidat presiden maupun politisi hendaknya tetaplah menjadi diri sendiri yang otentik tanpa harus mendadak menjadi ustadz, kiai atau penggemar hobi lainnya. Bersikap otentik di hadapan rakyat akan lebih memudahkan bagi publik untuk mengenal kandidat secara utuh, asli dan tidak dalam kepura-puraan.

#Pemilu2019 #Pilpres2019 #Jokowi #Prabowo
BERITA TERKAIT
Jokowi Bahas Strategi Kebudayaan dengan Seniman
Caleg DPRD Jatim Ancam Laporkan Anggota Bawaslu
Ini Harapan Jokowi Minta kepada Akuntan
Polisi Periksa Ayah Penjual Blangko e-KTP Daring
Jokowi Keluhkan PNS Sibuk Urus SPJ ke Menteri
Ditolak Datang, Sandi Tetap Santai dan Bersalaman
Jokowi: Pastikan APBN Dimanfaatkan untuk Rakyat

ke atas