EKONOMI

Jumat, 07 Desember 2018 | 07:15 WIB

Ini Strategi Hadapi Proteksonisme Global

Wahid Ma'ruf
Ini Strategi Hadapi Proteksonisme Global
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Sauhasil Nazara (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Nusa Dua - Kebijakan beberapa negara melakukan proteksionisme untuk perdagangan mereka berpotensi memperlemah prospek ekonomi Indonesia ke depan. Sikap beberapa negara ini karena secara global mengarah pada ketidakseimbangan perdagangan.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Sauhasil Nazara menjelaskan tren ekonomi global tersebut dapat memperlemah kinerja perdagangan dari komoditas. Namun memberikan kesempatan kenaikan ekonomi melalui diversifikasi ekspor dan keterlibatan lebih kuat dalam Global Value Chain (GVC). "Kesempatan tersebut bisa diraih Indonesa melalui perbaikan pendidikan dan pelatihan serta perlindungan sosial dalam ketenagakerjaan," katanya dalam acara The 8th Annual International Forum on Economic Development and Public Policy AIFED di Nusa Dua, Bali, Kamis (6/12/2018).
Sementara John Hawksworth (PWC UK) mempresentasikan tentang perkiraan ekonomi global yang akan naik dua kali lipat pada tahun 2050. Asumsinya kebijakan yang pro pertumbuhan dan tidak adanya bencana alam besar.
Perekonomian negara berkembang masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi global. Vietnam, India dan Indonesia akan menjadi tiga negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Untuk merealisaikan hal tersebut, pemerintah harus melakukan reformasi struktural untuk memperbaiki stabilitas makroekonomi, beradaptasi dengan teknologi baru, mendiversifikasi ekonomi dan mengurangi kesenjangan.
"Akan ada peralihan pekerjaan di sektor pertanian dan sebagian sektor manufaktur namun akan diimbangi dengan penciptaan pekerjaan di sektor jasa dan manufaktur teknologi tinggi bila negara berinvestasi di artificial intelligence (AI) dan robotika," jelasnya.
John Hawksworth (PWC UK) mempresentasikan tentang perkiraan ekonomi global yang akan naik dua kali lipat pada tahun 2050 dengan asumsi kebijakan yang pro pertumbuhan dan tidak adanya bencana alam besar. Perekonomian negara berkembang masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi global. Vietnam, India dan Indonesia akan menjadi tiga negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Untuk merealisaikan hal tersebut, pemerintah harus melakukan reformasi struktural untuk memperbaiki stabilitas makroekonomi, beradaptasi dengan teknologi baru, mendiversifikasi ekonomi dan mengurangi kesenjangan. Akan ada peralihan pekerjaan di sektor pertanian dan sebagian sektor manufaktur namun akan diimbangi dengan penciptaan pekerjaan di sektor jasa dan manufaktur teknologi tinggi bila negara berinvestasi di artificial intelligence (AI) dan robotika.

Dalam kesempatan tersebut ada juga Rathin Roy, Director of National Institute of Public Finance and Policy, India, yang mempresentasikan pembangunan dari perspektif India sebagai negara yang memiliki pendapatan per kapita relatif rendah, tingkat ekspor relatif kecil, memiliki keterbatasan dalam kelembagaan, khususnya dalam mengeksekusi kebijakan yang akan ditempuh. Dengan jumlah penduduk yang besar. "Saat ini India mengalami tantangan berupa beban CAD (current account deficit) yang besar sebagai akibat target pertumbuhan ekonomi yang memerlukan aliran dana luar negeri," katanya.

Strategi pembangunan di India, lanjutnya, memunculkan pilihan kebijakan, apakah meningkatkan produksi dalam negeri untuk subtitusi impor, menggiatkan ekspor guna membiayai kebutuhan impor, atau mengurangi impor. Pada saat rupee terdepresiasi ternyata tidak diikuti dengan peningkatan ekspor. Di samping itu, sejumlah komoditas impor inelastis. "Pemerintah India perlu fokus pada belanja publik yang meningkatkan produktivitas seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan."

Sauhasil pun menegaskan lagi, pada tahun 2045 (100 tahun merdeka) Indonesia akan menjadi negara maju ditopang oleh bonus demografi, usia produktif, urbanisasi, jumlah kelas menengah, dan sektor jasa yang lebih produktif.

Namun demikian, Indonesia membutuhkan infrastruktur, sumber daya manusia, teknologi, perencanaan wilayah, sumber daya ekonomi dan keuangan, stabilitas makro dan politik, serta kepastian hukum. Selama ini Indonesia telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan di atas 5 persen dengan kualitas pertumbuhan yang semakin membaik, hal ini ditunjukkan oleh turunnya kemiskinan, rasio gini, dan pengangguran. "Namun demikian, masih terdapat sejumlah tantangan antara lain gejala deindustrialisasi, ketergantungan pada komoditas, industri yang terkonsentrasi di Jawa, masalah kualitas tenaga kerja, dan kemampuan adaptasi teknologi."

#Ekspor #HargaKomoditas #PDB2018 #AIFED
BERITA TERKAIT
Susi Ajak Dunia Tangani Perubahan Iklim Kelautan
Pemerintah Mulai Hindari Kebijakan Tumpang Tindih
CAD Zaman Jokowi Bolong Besar, Tim Ekonomi Ngeyel
Ekspor Produk Perikanan Naik, Si Bongkok Primadona
Paman Sam Ikut Jejak China, Impor Minyak Sawit RI
DPR Harap BI Kurangi Beban Inflasi di Masyarakat
Inilah Penopang Pertumbuhan Ekonomi 2018

ke atas