MOZAIK

Selasa, 01 Januari 2019 | 06:00 WIB

Doa dan Usahalah: Jangan Percaya Ramalan di 2019

Doa dan Usahalah: Jangan Percaya Ramalan di 2019
(Foto: Ilustrasi)

TAHUN BARU 2019 segera tiba besok pagi pukul 00.00. Praktik meramal menjelang tahun baru pun marak. Paranormal atau supranatural melakukan serangkaian ramalan berkaitan dengan apa yang akan terjadi di tahun depan.

Umat Islam cukup banyak yang terpancing untuk mempercayai ramalan tersebut, meski kadang hanya secara iseng saja. Lalu bagaimana sebenarnya kedudukan ramalan nasib di mata Islam?

Sebelumnya, mari kita lihat firman Allah SWT berikut;

Artinya:
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok [1187]. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)

Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Allah SWT juga dalam firman-Nya:

23. dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,

24. kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah" [879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".
(QS. Al-Kahfi: 23-24).

Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan insya Allah (artinya jika Allah menghendaki).

Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Pada hakekatnya, ramalan terbagi menjadi dua macam.
1. Ramalan ilmiah.
2. Ramalan nonilmiah.
Dalam hal ini, Islam melarang ramalan yang nonilmiah karena sangat menyesatkan dan bahkan banyak sudah tercampuri dengan sesuatu yang bersifat setan.

Larangan mempercayai ramalan nonilmiah karena kebenaran ramalan itu masih buram dan banyak disalahgunakan sehingga keberadaannya menyesatkan. Sebab pada praktiknya, ramalan banyak menggunakan kekuatan jin dan setan.
Perlu diketahui, meskipun pada praktiknya beberapa ramalan yang dilakukan terbukti kebenarannya, namun hal itu hanya bersifat serba kebetulan semata.

Bagaimana tentang orang yang minta diramal di awal tahun?
Kalau dalam ajaran Islam sendiri sebenarnya kita tidak boleh mempercayai ramalan baik yang datangnya dari dukun ataupun dari orang yang pintar.

Walaupun selama ini banyak juga yang ingin mengetahui masa depannya melalui ramalan-ramalan tersebut, hal itu sebenarnya disebabkan oleh lemahnya pengetahuan mereka tentang agama.

Orang yang meminta ramal ataupun yang meramal, dua-duanya hukumnya haram. Karena itu bisa menyebabkan adanya kesyirikan. Sedangkan syirik itu adalah dosa yang tak dapat diampuni oelh Allah SWT.

Lalu kenapa fenomena ramal meramal ini jadi trend?
Maraknya masyarakat yang suka minta diramal dan meramal itu karena adanya krisis akidah, moral dan pengetahuan tentang agama Islam.

Karena sebenarnya ramalan itu dapat merampas independensi manusia dalam menatap masa depannya. Mereka seharusnya kalau ingin mencapai sukses ke depannya, bukan mendatangi ke peramal, namun padukan saja antara doa dan usaha. Insya Allah berhasil.

Ada yang menyanggah. Bukankah dahulu Rasulullah SAW juga meramalkan suatu kejadian yang akan terjadi? Jawabnya ya memang benar.
Apa-apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW adalah benar akan terjadi, namun itu bukan ramalan, tapi wahyu Allah SWT yang kejadiannya pasti akan terjadi di masa yang akan datang.

Jadi, apa yang dikatakan Rasulullah SAW terkait kejadian yang akan datang itu sifatnya informatif tentang suatu peristiwa yang kelak akan terjadi. Sebuah wahyu, dari Sang Pencipta Alam. Informasi semacam itu terkadang juga diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang saleh, waliyullah. Tapi, namanya bukan wahyu, namun disebut sebagai ilham. Wallahu A'lam. []

#TahunBaru #Ramalan
BERITA TERKAIT
Syair Kematian Budak untuk Sang Khalifah
Hakim Cuma Pekerja Biasa Bukan Wakil Tuhan
Tiga Sifat Orang yang tidak Boleh Diikuti
Tiga Manfaat Berbaik Sangka
Masuklah ke Dalam Islam Secara Total
(Tujuh Larangan Rasulullah (1)) Jangan Buruk Sangka
Rahasia Kandungan Surat Al-Quran

ke atas