MOZAIK

Jumat, 11 Januari 2019 | 18:00 WIB

Fitnah yang Lebih Rasul Takutkan dibanding Dajjal

Fitnah yang Lebih Rasul Takutkan dibanding Dajjal
(Foto: Ilustrasi)

FITNAH Dajjal adalah fitnah terbesar semenjak Allah Taala menciptakan Adam sampai hari kiamat. Keluarnya Dajjal termasuk di antara rangkaian tanda-tanda besar munculnya hari kiamat.

Allah Taala menciptakannya disertai beberapa kemampuan di luar kemampuan manusia biasa. Hal tersebut menjadikan akal terkagum-kagum sehingga menjadi bingunglah sebagian manusia yang melihatnya.

Telah diriwayatkan dalam hadits shahih bahwasannya Dajjal membawa kebun dan api. Apinya adalah kebun sedangkan kebunnya adalah api. Dia perintahkan langit untuk menurunkan hujan dan menyuruh bumi agar menumbuhkan berbagai tumbuhan.

Dajjal telah menutup kebenaran dengan kebathilan serta menutup kekufurannya dengan kebohongan. Kemampuannya yang hebat tersebut menimbulkan kerancuan yang membingungkan akal, sehingga membuat sebagian manusia tertipu darinya.

Besarnya fitnah yang disebabkan Dajjal menyebabkan hal tersebut menjadi perbincangan para sahabat. Mereka khawatir dan takut fitnah tersebut menimpanya. Tatkala Nabi shalallahu alaihi wa sallam menjumpai mereka dalam keadaan demikian, ia kabarkan suatu hal yang jauh lebih beliau khawatirkan daripada fitnah Dajjal!.

Maukah aku kabarkan suatu hal yang lebih aku takutkan menimpa kalian daripada Al Masiih Ad Dajjal? Tentu Wahai Rasulullah, jawab para sahabat. Nabi shalallahu alaihi wa sallam melanjutkan, Hal tersebut adalah Syirik Khafiy (Syirik yang tersamar) (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Al Albani).

Dalam riwayat lain Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian (para sahabat) adalah syirik asghar. Para Sahabat bertanya apa itu? Beliau shalallahu alaihi wa sallam menjawab, Riya (HR. Ahmad dan Baihaqi, dinilai shahih oleh Al Albani). Riya adalah seseorang memperbagus dan menghiasi ibadah yang dia lakukan, agar orang lain melihatnya.

Tujuannya adalah pujian dan sanjungan manusia atau maksud lain yang semisal (Ianatul Mustafiid hal. 646). Jadi maksud pembahasan riya di sini fokus pada Ibadah yang asas pokoknya adalah keikhlasan untuk mendapatkan rida Allah Taala.

Orang yang riya berarti ia memalingkan asas tersebut dengan tidak semata-mata mengharapkan rida Allah atas ibadah yang dilakukan, sehingga perbuatan itu termasuk kesyirikan. Perbuatan riya termasuk Syirik Khafiy (tersamar) yang menjangkiti niat dan tujuan pelakunya, meskipun secara dzahir dia beribadah kepada Allah Taala. Termasuk jenis Syirik Khafiy adalah sumah, yaitu seseorang beribadah agar manusia mendengarkannya.

Syaikh ibnu utsaimin rahimahullah dalam kitab Al Qoul Al Mufiid mengatakan termasuk beribadah dengan tujuan ingin dilihat manusia adalah seseorang beribadah agar manusia mendengarkannya. Pelakunya disebut musammi (orang yang melakukan sumah).

Riya dan Sumah keduanya adalah perbuatan syirik. Memiliki kesamaan dalam tujuan ibadah, yaitu sebatas mengharapkan pujian atau sanjungan manusia. Adapun perbedaannya terdapat pada jenis ibadah yang dilakukan. Riya menjangkiti ibadah badan contoh memperbagus shalat dihadapan orang lain, sedangkan sumah menjangkiti ibadah lisan semacam memperindah bacaan Al Quran di hadapan manusia. []

BERITA TERKAIT
Bila Perusahaan atau Majikan Terlambat Bayar Gaji
Jarum Suntik Sang Dokter
Ini Empat Ciri-Ciri Orang yang Bertawakal!
Sudahkah Kita Bertawakal?
Kejahatan Pendengki Ketika Ia Dengki
Janganlah Kamu Menuruti Tiga Orang ini!
Untuk Istri yang Ditinggal Mati Suami...

kembali ke atas