EKONOMI

Sabtu, 12 Januari 2019 | 14:55 WIB

Hero Tutup, Pengamat: Klimaks Lesunya Daya Beli

M Fadil Djailani
Hero Tutup, Pengamat: Klimaks Lesunya Daya Beli
PT Hero Supermarket Tbk (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Tumbangnya sejumlah peritel kakap, jelas menunjukkan betapa sadisnya pelemahan daya beli. Salah satu korbannya adalah PT Hero Supermarket Tbk yang menutup 26 gerai di Jawa dan Sumatera.

Dari jumlah gerai Hero yang tutup, sebagian besar berada di kawasan Jabodetabek. Alhasil, 532 karyawan dirumahkan.

Menanggapi hal ini, ekonom Institute for Development on Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut tutupnya sejumlah gerai milik Hero itu, merupakan klimaks dari rendahnya daya beli, atau konsumsi masyarakat sepanjang 2018. "Iya ritel masih tumbuh rendah tahun 2018 kemarin karena konsumsi engga naik signifikan stagnan di 5% rata rata," kata Bhima saat di hubungi INILAHCOM, Jakarta, Sabtu (12/1/2019).

Tak hanya itu, kata dia, harga komoditas perkebunan yang turun, berdampak signifikan terhadap melorotnya konsumsi. Akibatnya masyarakat lebih menahan diri untuk berbelanja. "Meskipun inflasi cuma 3,1% tapi masyarakat tahan untuk berbelanja," ujarnya.

Dikaitkan dengan Pemilihan Umum (Pemilu) presiden dan legislatif pada April mendatang, kata dia, membuat masyarakat semakin khawatir. Khususnya kelas menengah ke atas yang tinggal di perkotaan. Dan, faktor suku bunga tinggi menambah stagnasi pertumbuhan konsumsi.

"Ada pemilu juga yang bikin masyarakat khawatir gaduh. Ini terutama kondisi kelas menengah perkotaan. Bunga kredit makin mahal jadi mau belanja pakai kartu kredit masyarakat pada mikir berulang kali. Belum cicilan rumah dan kendaraan bermotor jadi naik," katanya. [ipe]


#Indef #DayaBeli #Inflasi #PresidenJokowi #BisnisRitel
BERITA TERKAIT
Aviliani Sarankan Pajak Youtuber Diburu
Bisnis Kuliner Subur di Kampung Halaman Jokowi
Jokowi Ditinggal Rakyat karena Janji Ekonomi 2014
Meski Investasi Seret, Tunjangan Kinerja BKPM Cair
Kisruh Pelabuhan Marunda Jangan Ganggu Operasional
Diskresi Bulog Bikin Petani Tinggalkan Jokowi?
Indef Gross Split tak Punya Kepastian Hukum Tetap

ke atas