EKONOMI

Minggu, 13 Januari 2019 | 04:29 WIB

BPJS Ketenagakerjaan Cuma Rp16.800, Jabar Minim

BPJS Ketenagakerjaan Cuma Rp16.800, Jabar Minim
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil

INILAHCOM, Bandung - Suka atau tidak, tingkat kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Jawa Barat, tergolong rendah. Padahal, iurannya cukup terjangkau alias tidak mahal-mahal amat. Hanya Rp16.800 per bulan.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengungkapkan hal itu usai menghadiri acara penganugerahan Penghargaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2018 di Aula Barat Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat Jumat malam (11/1/2019). Secara umum (kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Jabar) masih rendah, jadi kita akan promosi kreatif agar meningkatkan keikutsertaan, kata Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil.

Siapapun warga Indonesia yang bekerja kalau ingin hari tenang, kalau ingin pada saat ada masalah itu ada perlindungan tinggal bayar aja Rp16 ribuan, nanti dilindungi, lanjutnya.

Promosi kreatif akan dilakukan melalui manfaat tambahan yang diberikan kepada pekerja yang telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Selain berbagai jaminan atau pensiunan, inovasi yang ingin dihadirkan Emil, seperti peserta BPJS Ketenagakerjaan bisa memiliki hunian dan layanan transportasi umum gratis bagi pekerja formal, hingga harga sembako yang terjangkau. Ujung-ujungnya dengan membayar justru dapat diskon, dapat kemudahan, dan akhirnya bisa lebih sejahtera karena bisa menabung, tutur Emil.

Tapi khusus yang pekerja formal, kita dorong perusahaan-perusahaan itu berinvestasi nanti BPJS Ketenagakerjaan akan bikin sebuah cara agar peserta yang formal bisa punya rumah menjadi prioritas atau rusun, bisa naik kendaraan gratis secara umum, lanjutnya.

Emil menambahkan, Pemprov Jabar memiliki program inovasi untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja di Jawa Barat. Rencananya, perusahaan wajib memberikan fasilitas perumahan dekat dengan lokasi atau tempat bekerja. Yang bikin mahal pekerja--konsepnya yang akan saya bongkar itu, pabriknya terlalu jauh dari tempat tinggalnya, jelas Emil.

Maka nanti di industri-industri baru di zaman saya, akan bikin aturan jika bikin pabrik harus satu paket dengan rumah susunnya yang nempel sebelahan, sehingga tidak ada cost transportasi, ungkapnya.

Gagasan ini didukung BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Provinsi Jawa Barat. Deputy Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Provinsi Jawa Barat Kuswahyudi mendukung berbagai langkah terobosan yang akan dilakukan Gubernur Jawa Barat untuk meningkatkan kesejahteraan para pekerja di Jawa Barat terutama melalui BPJS Ketenagakerjaan.

Nantinya kita akan berbuat suatu hal yang terkait dengan bagaimana caranya supaya mereka (pekerja) tertarik menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Manfaat dapat dan hal lainnya dapat melalui kemudahan dan kemurahan, tutur Kuswahyudi.

Karena dia menekankan, bahwa semua program di BPJS Ketenagakerjaan baik yang terkait dengan iuran nantinya akan dikembangkan dan akan kembali lagi kepada pekerja.

Potensi pekerja informal di Jawa Barat mencapai 10 juta orang. Hanya saja, peserta BPJS Ketenagakerjaan hanya sekitar 600 ribuan pekerja.
Makanya kita akan buat nanti bagaimana supaya mereka tertarik dengan harga iurannya Rp 16.800 dengan jaminan dua, kecelakaan dan kematian. Kalau pensiun ada nilainya lagi, tukas Kuswahyudi.

Sementara jumlah pekerja formal yang telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan di Jawa Barat berjumlah kurang lebih 4,6 juta pekerja. Apabila ditotal jumlah pekerja baik formal maupun informal yang telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan berjumlah sekitar 5,4 juta pekerja dari 20 juta pekerja yang ada di Jawa Barat.

Makanya Pak Gubernur (Ridwan Kamil) bertekad bagaimana supaya informal ini bisa ngga kita berikan sosialisasi supaya mereka mau (menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan), katanya. [ipe]

#BPJSKetenagakerjaan #PemprovJabar #RidwanKamil
BERITA TERKAIT
Revitalisasi Wisata Waduk Jatiluhur Mulai 2019
HUT RI Ke-74, Kamil Umbar Prestasi Jawa Barat
Benahi Transportasi, Kamil Sindir Depok Macet
Program Serasi Buktikan Mampu Panen Tiga Kali
Inilah Pemantik Kualitas Buruk Udara Jakarta
Pamor Kuat Rizal Ramli di Mata Pemimpin
Pemakaian Produksi Gas Dalam Negeri Capai 65%

kembali ke atas