MOZAIK

Minggu, 20 Januari 2019 | 00:03 WIB

Tersenyumlah dan Jangan Biasakan Merengut

KH Ahmad Imam Mawardi
Tersenyumlah dan Jangan Biasakan Merengut
(Foto: Ilustrasi)

TIDAK selamanya kumis itu melambangkan wibawa. Lelaki berkumis yang kulihat kali ini kelihatan kehilangan wibawa ketika dibentak dan disuruh-suruh isterinya di depan banyak orang. Kasihan sekali dengan lelaki ini, memiliki beban semakin berat karena dia berkumis.

Andai saja tak berkumis, beban itu tak akan begitu berat, karena sama-sama tak berkumis dengan yang membentaknya. Pertimbangkan sekali lagi sebelum memutuskan diri untuk berkumis. Atau jangan-jangan sudah ada niatan mencukur kumis gara-gara tulisan ini.

Untuk para isteri, jangan biasakan menurunkan derajat wibawa suami dengan membentak dan mendelik-mendelik di depannya. Apalagi si suami itu berkumis. Sungguh itu menghancurkan wibawa. Bukankah ketidakmampuan suami membuat para isteri tersenyum sudah cukup menjadikan sang suami kehilangan wibawanya? Tersenyumlah di depan suami wahai para isteri dan jangan biasakan merengut atau bersikap garang di depan suami, terlebih jika Anda adalah para isteri yang ditakdirkan berkumis.

Sepertinya, pembaca tulisan ini sudah mulai senyum-senyum. Teruskan senyuman itu dan bagikan senyuman kepada banyak orang. Membagikan senyuman adalah bagi membagikan bunga-bunga indah. Penerimanya akan bersuka hati dengan rasa riang gembira. Orang yang sedang bagaia dan riang gembira memiliki peluang sangat besar untuk membahagiakan orang lain lagi, sampai pada akhirnya kebahagian menjadi milik banyak orang. Alangkah besar kemaslahatan yang disebabkan oleh satu senyuman.

Sebaliknya, merengut adalah tanda berkabutnya jiwa.Saat kita merengut kepada orang lain, maka orang lain itu merasa tak nyaman serta merasa ada yang salah dengan keadaan itu. Ketidaknyamanan ini bisa saja menular kepada orang lainnya lagi. Hidup pun dirasakan tak nyaman oleh banyak orang. Mulailah tersenyum pada orang yang ada di dekat kita saat ini, lalu lihatlah responnya. Sama-sama bahagia, bukan?. Salam AIM. [*]

(Salah satu tulisan dalam buku saya Selamat Tinggal Tangisan, Selamat Datang Senyuman.)

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Prinsip Hidup agar tak Terjatuh dalam Kecewa
Bahagiakan Diri dengan Membahagiakan Orang Lain
Kenikmatan Ibadah, Siapakah Pemiliknya?
Guide Kehidupan Menuju Arah Bahagia yang Tepat
Menjadi Manusia Terbaik, Manusia Pilihan
Mengapa Kita Harus Senantiasa Bersyukur?
(Mat Kelor Berhaji Lagi (30)) Didaulat Khutbah Jumat, Berhutbah Tentang Keluarga

kembali ke atas