MOZAIK

Sabtu, 19 Januari 2019 | 18:00 WIB

"Dicuci" Dulu di Neraka Baru "Cicipi" Surga?

"Dicuci" Dulu di Neraka Baru "Cicipi" Surga?
(Foto: Ilustrasi)

PERTANYAAN ini tentu sering diajukan oleh berbagai macam orang atau bahkan menggelitik perasaan kita sendiri. Apakah kita sebagai seorang muslim sudah pasti masuk surga? Apakah kita harus "dicuci" terlebih dahulu di neraka baru diperbolehkan mencicipi surga? Atau bagaimana caranya agar kita masuk surga tanpa harus ke neraka terlebih dahulu?

Menurut Ustaz Ahmad Sarwat Lc, mungkin saja ada orang yang masuk surga langsung, tanpa harus masuk ke neraka lebih dahulu. Dan orang-orang seperti itu bukan terbatas pada nabi dan rasul saja.

Di masa nabi shallallahu 'alaihiw asallam, ada seorang wanita yang berzina lalu hamil. Namun dia bertobat dan minta dihukum rajam hingga mati. Ketika jenazahnya sudah tergelatak, Umar bin Al-Khattab mencacinya, namun dicegah oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam malah mengatakan bahwa wanita ini telah diampuni semua dosanya dengan kualitas tobat yang cukup untuk dibagikan kepada 70 ahli Madinah.

Di dalam Alquran bertabur ayat yang menggambarkan orang-orang yang meninggal dan langsung masuk surga, tidak perlu mampir di neraka. Banyak caranya, tapi kunci utamanya hanya satu, yaitu mati dalam keadaan tidak punya dosa apapun. Kalau pun ada dosa, hanya sedikit dan bisa tercover dengan pahala amalan yang sangat banyak.

Tidak Ada Jaminan Langsung Masuk Surga

Tidak ada seorang pun yang dijamin untuk langsung masuk surga, kecuali hanya para nabi dan rasul saja. Para sahabat nabi yang mulia, para tabi'in, tabi'it tabi'in, para ulama besar sepanjang sejarah termasuk para orang saleh yang masyhur, tidak ada satu pun yang pernah ada yang menjamin mereka pasti masuk surga, tanpa lewat neraka.

Sebab semua itu rahasia Allah Ta'ala, akan seperti apa nasib kita di akhirat nanti. Boleh jadi seseorang di dunia ini dikenal sebagai orang yang saleh di mata manusia, tapi di mata Allah Ta'ala belum tentu saleh. Boleh jadi dia punya amal yang banyak, tapi siapa yang tahu kalau amalnya itu sia-sia, atau tidak diterima, atau habis karena harus menebus banyak kesalahan dan dosa yang tidak terlihat di mata manusia.

Semua itu adalah misteri ilahi, tidak ada yang tahu dan bisa menilainya di dunia ini, kecuali hati nurani masing-masing dan tentunya Allah Ta'ala. Namun di balik semua itu, kita pun juga tidak boleh berburuk sangka kepada Allah Ta'ala. Sebab selain sifat-Nya Yang Maha keras siksa-Nya, Allah Ta'ala juga tuhan yang Maha Pengampun dan Penyayang.

Maka mintalah ampun tiap hari dan sepanjang masa, atas semua dosa yang kita lakukan. Baik yang kita sengaja atau pun yang tidak kita sengaja. Baik yang kecil maupun yang besar. Kalau nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang dijamin tidak punya dosa itu saja masih minta ampun sehari tidak kurang 100 kali, maka bagaimana dengan kita?

Yang penting sekarang ini kita berserah diri kepada semua yang telah Allah perintahkan, serta menjauhkan diri dari segala yang dilarangnya. Bahkan kita pun tidak boleh memandang enteng orang yang 'biasa-biasa' saja. Mungkin di dunia ini tidak pernah dikenal sebagai orang yang banyak amalnya, tetapi ternyata di akhirat mendapat perhitungan yang dimudahkan Allah, sehingga masuk surga langsung dengan mudahnya.

Maka posisi kita haruslah berada antara dua perasaan, yaitu khauf (takut) dan raja' (harapan). Takut atas ancaman masuk neraka karena banyak dosa. Dan harapan akan mendapatkan ampunan dan kasih sayang Allah. Keseimbangan di antara keduanya akan melahirkan iman yang kuat dan rasa cinta yang mendalam kepada Allah.

Sebaliknya, kalau hanya takut saja, akhirnya akan menjadikan kita selalu berputus asa. Kalau hanya harapan saja, bisa-bisa kecewa di akhirat nanti dan di dunia ini tidak pernah takut dosa. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. []

BERITA TERKAIT
Surga Kema'rifatan
(Wasiat 6) Tidak Takut Celaan Ketika Berdakwah di Jalan Allah
Syair: Menghapus Amarah Tuhan
Hukum Prasangka Jelek pada yang Lahiriahnya Baik
Penggunaan Kata Dzan (Praduga) dalam Alquran
Apakah Anak Hasil Zina Tak Mungkin jadi Soleh?
Lupa Baca Doa sebelum Berhubungan Suami Istri

kembali ke atas