MOZAIK

Senin, 21 Januari 2019 | 00:04 WIB

Berebut Menjadi Pemimpin

KH Ahmad Imam Mawardi
Berebut Menjadi Pemimpin
(Foto: Ilustrasi)

DEBAT pertama capres-cawapres sudah selesai digelar. Diskusi dan analisa tentangnya menjadi perdebatan partai tambahan yang tidak kunjung selesai entah sampai kapan.

Sangat banyak orang yang tak terlibat langsung melibatkan diri secara suka rela untuk membela jagoannya lengkap dengan cacian dan umpatan. Aib yang harus ditutup dibuka lebar-lebar demi memenangkan sang calon pemimpin. Beginikah wujud demokrasi yang benar? Mungkinkah kedamaian dan keberkahan hadir dalam masyarakat yang menanam kebencian dan cacian sesama warga negara? Semua tahu jawabannya.

Kalau saya kemukakan kisah para ulama jaman dahulu yang berebut menolak jabatan, maka pasti banyak yang berkomentar: ah, itu kan zaman dahulu, zaman kini sudah berubah. Kalau saya sampaikan bahwa Sayyidina Umar beristighfar saat terpilih menjadi khalifah, sangat mungkin ada yang berkomentar: ah, itu kan zaman dahulu, sekarang kondisi zaman berbeda. Ya, sudahlah. Namun satu hal saja, jangan biasakan menghujat dan menghina. Dunia ini berputar, jangan-jangan ada masa di mana kita nanti akan dihujat dan dihina.

Menjalani hidup dengan sewajarnya, menghadapi masalah dengan selayaknya, berkomentar dengan sepatutnya adalah jalan tengah yang paling aman bagi kita. Cobalah kita buka catatan sejarah hidup orang-orang besar, adakah yang memiliki hobi menghujat dan menghina? Mungkin ada yang menjawab: ah, itu kan dulu. Zaman sekarang kan sudah beda. Ya, sudah lah. Terserah.

Semua keriuhan kini di masyarakat sungguh didominasi oleh sebab pilihan presiden, pilihan pemimpin. Menjadi pemimpin diperebutkan sampai banyak yang kehilangan nalar sehat dan hati waras, yakni bermusuhan dengan orang yang tak selayaknya dijadikan musuh.

Sepertinya, saat ini kita perlu merenungkan kalimat hikmah para ulama zaman dahulu: Jangan bersedih saat Anda tak diangkat menjadi imam dalam pemerintahan. Janganlah kecewa saat Anda tak dipilih menjadi imam di mihrab. Anda memiliki peluang besar menjadi imam dalam toleransi dan cinta, imam dalam kesantunan dan kedermawanan, imam dalam kepedulian sosial dan penyejahteraan sosial. Salam akur dan rukun, Ahmad Imam Mawardi (AIM). [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Kuasa Allah & Kuasa Uang dalam Percaturan Politik
Jalani dengan Keyakinan Utuh akan Pengaturan Allah
Bagaimana Menyambut Hadirnya Bulan Ramadhan?
Pengingat Laku di Ujung Pagi
Hati Adalah Cermin, Sudahkah Jernih dan Bening?
Jangan Tertipu, Buatlah Skala Prioritas
Mengapa Memilih Ini dan Tidak Memilih yang Lain

kembali ke atas