MOZAIK

Senin, 04 Februari 2019 | 17:00 WIB

Saat Rasulullah Kehilangan Anak-Anaknya

Saat Rasulullah Kehilangan Anak-Anaknya
(Foto: Ilustrasi)

PERTAMA, al-Qashim bin (Muhammad) Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat usia dua tahun. Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah. Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda, Sesungguhnya mata ini menitikkan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridai Rabb kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim. (HR. Bukhari).

Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Taala mengaruniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, ibu, kakek, dan pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memperpanjang usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Bisa kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan memiliki keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. Saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. [Sumber: Islamweb/kisahmuslim]

BERITA TERKAIT
Forum Pengajian Masyarakat Sebagai Perekat Bangsa
Syair : Puisi Terakhir
Kisah Humor Seorang Anak dan Jubah Sang Ayah
Kisah Doa Seorang Syahid dan Ibunya
Solusi dari Ulama dengan Keindahan Ilmunya
Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan pada Gigi
Yasinan di Kubur, Apa Bermanfaat untuk Ahli Kubur?

kembali ke atas