EKONOMI

Jumat, 08 Februari 2019 | 18:45 WIB

Produksi Batubara 2019 Dipatok Bisa 490 Juta Ton

Indra Hendriana
Produksi Batubara 2019 Dipatok Bisa 490 Juta Ton
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meneken Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) 2019. Produksi batubara ditarget 490 juta ton.

Direktur Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Gatot mengatakan, target produksi batubara didapatkan dari 390 juta ton berasal dari Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara (PKP2B)) dan 100 juta ton berasal dari IUP daerah.

(RKAB) sudah saya tandatangan. Kalau yang pusat sekitar 390 juta ton lebih sedikit kan disakasih jatah 100 juta (IUP daerah), kata Bambang di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (8/2/2019).

Jumlah ini tentunya lebih besar ketimbang 2018 sebesar 485 juta ton. Hanya saja, realisasi produksi 2018 melebihi target yakni 528 juta ton. Karena ada penambahan prosuksi saat revisi RKAB. Tahun lalu kan realisasinya malah 520 jutaan, kata dia.

Sebelumnya, Kementerian ESDM mematok Harga Batubara Acuan (HBA) untuk Februari 2019 sebesar US$91,80 per ton. Sedikit terkoreksi dibanding Januari 2019 sebesar US$92,41 per ton. Sedangkan Desember 2018 sebesar US$92,51 per ton.

"Harga batubara acuan mengalami penurunan dari bulan sebelumnya, turun sebesar USD 0,61 dari HBA Januari 2019 sebesar USD 92,41 per ton," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (Biro KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta, Rabu (6/1/2019).

Menurut dia, turunnya HBA bulan Februari karena dipengaruhi oleh kebijakan proteksi impor Tiongkok dan India. "Kebijakan memanfaatkan produksi batubara dalam negeri oleh kedua negara tadi memiliki pengaruh terhadap penurunan HBA di bulan ini," ujar Agung.

Kemudian, penurunan HBA disebabkan oleh pergerakan variabel yang membentuk HBA, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platss 5900 pada bulan sebelumnya. Kualitasnya disetarakan pada kalori 6322 kcal per kg GAR, Total Moisture 8%, Total Sulphur 0,8% dan Ash 15%.

Sebagaimana diketahui, Kepmen yang mengatur HBA dan HMA yang telah ditetapkan ini akan digunakan sebagai dasar perhitungan dalam penjualan langsung selama satu bulan untuk batubara dan mineral secara Free On Board di atas kapal pengangkut.

Kepmen tersebut juga mematok HMA komoditas kobalt, timbal dan seng yang mengalami penurunan. Harga kobalt ditetapkan USD 45.973,68/dry metric ton (dmt) turun dari USD 55.261,36/dmt dari HMA Januari 2019, timbal ditetapkan USD 1.965,18/dmt turun dari USD 1.948/dmt, dan seng mengalami penurunan dari USD 2.517,74/dmt menjadi USD 2.631,95/dmt.

Komoditas aluminium dan tembaga pun juga mengalami tren penurunan. Harga aluminium turun dari USD 1.939,48/dmt pada Februari 2019 menjadi USD 1.854,24/dmt dan untuk tembaga, HMA Februari 2019 ditetapkan USD 5.926,24/dmt, turun dari USD 6.180,77/dmt. Sementara, HMA Nikel mengalami kenaikan dari USD 10,890,68/dmt menjadi USD 11.046,05/dmt. [ipe]

#MenteriJonan #HBA #Batubara
BERITA TERKAIT
Subsidi Cuman Rp1.000, Solar Bisa Naik Tahun Depan
Menakar Masa Depan Pembangkit Setrum Batubara
Perang Dingin, DEN Usulkan Jokowi Copot Jonan
Inilah Cadangan Mineral di Indonesia Versi KESDM
Hilirisasi Minerba Bakal Mangkrak, Ini Penyebabnya
Investasi Migas Bergantung Kualitas Regulasi Jonan
2020, Beli LPG Subsidi Wajib Punya Kartu Miskin

kembali ke atas