NASIONAL

Senin, 11 Februari 2019 | 06:03 WIB
(Pencabutan Remisi Napi Pembunuh Wartawan)

Pencabutan Remisi, Dilema Jokowi Jelang Pilpres

Happy Karundeng
Pencabutan Remisi, Dilema Jokowi Jelang Pilpres
Politikus PKS Nazir Djamil (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Politikus PKS Nazir Djamil mengatakan terkait keputusan pencabutan dan pemberian remisi narapidana memang jadi tanggungjawab Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menyebut ini adalah dilema Jokowi Jelang Pilpres.

"Memang remisi itu hak bagi narapidana yang telah berkelakuan baik, apapun bentuk kejahatan yang dia lakukan. Ini memang dilema bagi Jokowi menjelang pilpres," katanya kepada INILAHCOM, Minggu (10/2/2019).

Ia menjelaskan, mencabut remisi khususnya untuk napi pembunuh wartawan, itu artinya Presiden mengabaikan hak-hak narapidana yang telah diatur dalam peraturan perundangan-undangan.

"Tidak mencabutnya, dikuatirkan akan menurunkan elektabilitasnya karena dinilai tidak pro pemberantasan korupsi. Sebab narapidana yang diberikan remisi itu terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap seorang wartawan di Bali yang mengungkapkan kasus korupsi kepala daerah di bali," ulasnya.

"Inilah yang saya sebut dilema jokowi. Tapi apapun keputusan Jokowi, tentu memiliki resiko. Jadi ya nikmati saja pro dan kontra meskipun Jokowi telah mencabut remisi itu," imbuhnya.

Sebagaimana diberitakan, Presiden Joko Widodo akhirnya mencabut remisi terpidana pembunuh wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa yakni I Nyoman Susrama. Hal itu disampaikan Jokowi usai menghadiri peringatan Hari Pers Nasional.

"Sudah, sudah saya tandatangani (pencabutan remisi)," ujar Jokowi saat ditanya oleh peserta yang hadir di acara tersebut, Sabtu, 9 Februari 2019.

Dengan adanya pencabutan remisi tersebut, Susrama tetap harus menjalani hukuman seumur hidup.

Diketahui, remisi yang sempat menjadi polemik itu tertuang dalam Keppres Nomor 29 tahun 2018 tentang Pemberian Remisi Perubahan dari Pidana Penjara Seumur Hidup Menjadi Pidana Sementara tertanggal 7 Desember 2018.

Susrama merupakan satu dari 115 terpidana yang mendapatkan keringanan hukuman tersebut. Hukuman atas dia jadi ringan, dari penjara seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. [hpy]

#PencabutanRemisi #NapiPembunuhWartawan
BERITA TERKAIT
Polisi Tangkap Buronan Ranmor di Sumenep
Tunda RKUHP Setuju Revisi UUKPK Dikritik
Respon Jokowi TMC TNI AU Berhasil Turunkan Hujan
Korlantas Polri Resmi Luncurkan Smart SIM
Reaksi Kemenpar Soal Festival Jatiluwih 2019
Ibu-ibu Pengajian Panik Babi Hutan Masuk Masjid
RKUHP Potensi Tekan Kebebasan Rakyat Indonesia

kembali ke atas