EKONOMI

Selasa, 12 Februari 2019 | 02:39 WIB
(Jelang Debat Capres)

Neraca Migas Tekor Besar, Rapor Merah Jokowi

Neraca Migas Tekor Besar, Rapor Merah Jokowi
Ketua Komisi VII DPR asal Gerindra, Gus Irawan Pasaribu (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Dua capres bakal bertemu dalam debat kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). Tema energi bakal alot khususnya menyangkut defisit neraca migas.

Ketua Komisi VII DPR asal Gerindra, Gus Irawan Pasaribu menyebut dua masalah krusial menyangkut tata kelola minyak dan gas (migas), yakni masih tingginya impor minyak, serta rendahnya produksi. Alhasil, neraca migas mengalami defisit alias tekor hingga US$12,4 miliar sepanjang 2018.

Anak buah Prabowo ini mengatakan, importasi migas, termasuk di dalamnya impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) tercatat sangat tinggi, sehingga melahirkan defisit neraca transaksi berjalan yang cukup dalam, Serta menguras cadangan devisa dalam jumlah signifikan.

Ketika permintaan BBM dalam negeri terus meningkat, kata Gus Irawan, kegiatan eksplorasi sumber-sumber migas bukannya naik, namun justru menurun.
"Produksi bukan lagi stagnan, tapi menurun. Itu akhirnya impor migas kita naik terus. Belum ada kebijakan signifikan bisa menaikkan lifting minyak," kata Gus.

Dia mengatakan, meningkatnya impor migas ini dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi sumber keprihatinan mengenai ketahanan energi di Tanah Air.

Ya, Gus Irawan tidak sedang menebar hoax. Sepanjang 2018, neraca perdagangan migas Indonesia mencatat defisit US$ 12,4 miliar, atau setara Rp173,65 triliun. Defisit ini melonjak 44,7% ketimbang 2017. Sekaligus tekor terbesar sepanjang pemerintahan Joko Widodo.

Terjadinya defisit atas neraca migas dipicu melonjaknya nilai impor migas nasional sebesar 22,59% menjadi US$29,81 miliar pada 2018 dibanding 2017. Sementara nilai ekspor migas hanya tumbuh 10,55% menjadi US$ 17,4 miliar pada 2018 dibandingkan 2017.

Pada 2014, defisit neraca migas mencapai US$13,4 miliar. Kala itu, impor migas nasional mencapai US$43,46 miliar. Sementara ekspornya hanya US$30 miliar.

Besarnya defisit neraca migas dipantik kenaikan permintaan BBM bersubsidi, seiring tumbuhnya perekonomian domestik. Diperparah dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia hingga US$100/barel.

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira menilai, impor migas serta lemahnya eksplorasi minyak di dalam negeri, merupakan masalah struktural yang harus bisa dituntaskan presiden terpilih 2019-2024.

Menurut catatan Bhima, realisasi lifting minyak pada 2018 hanya 778 ribu barel per hari, atau turun 3,21% ketimbang 2017.

Dia memberi beberapa catatan bahwa iklim investasi di sektor migas harus dibenahi agar menarik investor untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Pembangunan kilang juga mesti dipercepat, serta insentif dan kebijakan yang kondusif untuk energi baru dan terbarukan. "Ini adalah masalah struktural. Kita menunggu ide-ide cerdas capres untuk menuntaskan masalah ini," ujarnya.

Berdasarkan statistik neraca transaksi berjalan untuk 2018, neraca perdagangan migas mengalami defisit hingga US$11,6 miliar. Defisit tersebut disebabkan melejitnya impor migas hingga US$29,2 miliar. Atau naik dari US$22,9 miliar pada 2017. Lebih besar pula ketimbang 2016 ketika impor hanya US$17,7 miliar. Sementara ekspor migas pada 2018, hanya US$17,6 miliar dolar AS. [tar]

BERITA TERKAIT
(Debat Capres II) Jokowi Sebut Prabowo Punya Lahan Luas di Kaltim
(Debat Capres II) Jokowi Akui Tak Bisa Setop Impor Karena Dalih Ini
Impor Pangan, Prabowo Serang Mendag Jokowi
Prabowo Akan Kejar Tambang Perusak Lingkungan
(Debat Capres II) Jokowi Sebut BUMN Perikanan Sudah Bantu Nelayan
(Debat Capres II) Jokowi Akui Budaya LRT dan MRT Butuh Waktu
Menang Pilpres, Prabowo Murahkan Listrik & Pangan

ke atas