NASIONAL

Selasa, 12 Februari 2019 | 17:11 WIB

Dirut PLN Akui Sempat Tegur Kotjo di Depan Idrus

Happy Karundeng
Dirut PLN Akui Sempat Tegur Kotjo di Depan Idrus
Direktur Utama PT PLN Persero Sofyan Basir (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT PLN Persero Sofyan Basir menyampaikan kesaksiannya dalam sidang dugaan suap proyek PLTU Riau-1 yang menjerat mantan Menteri Sosial, Idrus Marham, Selasa (12/2/2019).

Dalam kesaksiannya, ia mengaku sempat emosi saat didatangi Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo dan Idrus Marham.

Ia menjelaskan, pertemuan itu dilakukan pada Juni 2018. Saat itu, Idrus mempersilakan Kotjo untuk lebih dulu berbicara menyampaikan hal yang ingin dibicarakan dengan Sofyan dan Kotjo langsung berbicara mengenai proyek pembangunan PLTU Riau 2.

"Saat duduk, menyampaikan, Idrus buka pembicaraan, Kotjo disuruh bicara duluan. Dia bicara Riau II. Riau I kan mau selesai, bagaimana nanti, kalau sudah mulai berjalan, kita diskusi Riau II," katanya.

Menurut Sofyan, Kotjo menyampaikan keinginan untuk dapat kembali menjadi investor pelaksana proyek pada tahun 2019.

"Mohon maaf, saat itu saya agak emosi. Saya bilang, mimpi saja jangan. Suasana saat itu langsung tidak enak," katanya.

Menurut Sofyan, dia merasa kesal karena proyek PLTU Riau 1 yang akan dikerjakan Kotjo dan investor dari Cina, belum juga mencapai kesepakatan. Bahkan, proses negosiasi terjadi secara alot.

Sofyan juga mengancam akan mencari investor lain, apabila Kotjo dan rekanannya tidak sepakat dengan penawaran yang sudah ditetapkan PLN.

Saat itu, menurut Sofyan, Idrus segera memotong percakapan dan meminta agar Eni dan Kotjo keluar dari kediamannya. Idrus mengatakan, dia memiliki hal lain yang perlu dibicarakan dengan Sofyan.

"Pak Idrus bilang, ya sudah Pak Kotjo sama dinda (Eni) keluar saja dulu. Akhirnya mereka berdua keluar pindah ke ruangan lain. Kira2 10 menit keluar, saya bilang, mereka kan tamu saya. dia bilang gak usah. tetep diluar," kata Sofyan.

Sebagaimana diberitakan, Idrus Marham didakwa bersama-sama dengan Eni Maulani Saragih menerima uang Rp2,25 miliar dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Johannes Kotjo. Suap itu diberikan agar Blackgold mendapatkan proyek pembangunan PLTU Riau-1 di Indragiri Hulu, Riau.

Rp2 miliar di antaranya dimintakan Idrus ke Kotjo melalui Eni untuk kepentingan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar yang digelar 2017 lalu. Sementara Rp250 juta lainnya, diminta Idrus ke Kotjo untuk kepentingan Pilkada suami dari Eni Saragih, Muhammad Al-Khadziq.

Atas perbuatannya, Idrus didakwa telah melanggar Pasal 12 huruf a UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 64 ayat (1) KUHP. [ton]

#KPK #EniSaragih
BERITA TERKAIT
KPK Geram Ada Saksi Mangkir Alasan Rapat Timses
JPU Sebut Pasal yang Dipersoalkan Ahli Lucas Basi
KPK Pindahkan Bupati Bekasi Neneng Ke Bandung
KPK Periksa Direktur Dana Perimbangan Kemenkeu
Ini Alasan KPK Belum Tahan Emirsyah Satar
KPK Panggil Ketua & 2 Anggota DPRD Lampung Tengah
KPK Periksa Waketum PAN

ke atas