MOZAIK

Sabtu, 16 Februari 2019 | 00:05 WIB

Tragedi Nokia

KH Ahmad Imam Mawardi
Tragedi Nokia
(Foto: ilustrasi)

SIAPA yang tidak kenal handphone bermerek Nokia. Merek ini pernah merajai pasaran pada jaman dahulu. Merek Sony Ericson dan Siemen harus rela ditinggalkan jauh pada saat itu. Samsung, pada saat itu, adalah alternatif yang tidak banyak dilirik orang.

Kini, nasib Nokia sangat mengenaskan. Kerugian demi kerugian menjadi jalan hidupnya. Begitu cepat sekali Nokia berada dalam keadaan sekarat. Sementara itu, Samsung kini merajai pasaran. Teknologi Android yang digunakan Samsung mendunia sekali. Lalu, pertanyaannya, apa kesalahan Nokia?

Direktur Pelaksana Nokia Corporate tak merasa melakukan kesalahan apapun kecuali hanya bahwa dia mengambil jalan yang membuat perusahaan itu rugi besar. Jalan yang ditempuhnya adalah MEMILIH UNTUK TIDAK BERUBAH, yakni bersikukuh bertahan dengan gaya lama dan tidak mau mengikuti perkembangan teknologi yang sedang trend.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa sebaik apapun institusi atau peusahaan kita, ia akan cepat hancur dan ditinggal banyak orang jika tidak mau berubah untuk berkembang maju. Inovasi adalah salah satu hal yang perlu dilakukan.

Pelajaran kedua adalah bahwa kekuasaan dan kejayaan betul-betul berputar dari satu tangan ke tangan yang lain. Masa itu beredar dan berputar. Karena itu maka jangan sampai arogan dan sombong saat berkuasa, tetaplah santun dan membangun hubungan yang harmonis dengan siapapun.

Pelajaran ketiga, kuatkan mental untuk belajar dari pihak lain walau posisinya kini di bawah kita. Tidak semua yang orang lain ketahui itu juga kita ketahui. Setiap orang dan setiap pihak lain memiliki kelebihan yang mungkin saja tidak kita duga. Buka hati dan buka akal untuk hadirnya ide-ide baru. Salam, AIM. [*]

#PencerahHati #AhmadImamMawardi #AIM
BERITA TERKAIT
Persoalan Nyata dari Kisah Nyata tentang Zakat
Hakikat Kehidupan dan Cara Terbaik Menyikapinya
Kapan Kita Terakhir Mendengar Firman Allah?
Serba-serbi Bulan Puasa
Pelajaran Kehidupan yang sangat Bernilai
Belum Bisa Tersenyum? Belajarlah pada Kakek Bijak
Mengakrabkan Diri dengan Rizki Kita

kembali ke atas