PASAR MODAL

Jumat, 15 Februari 2019 | 11:01 WIB

Inflasi China Capai 1,7% di Bulan Januari

Wahid Ma'ruf
Inflasi China Capai 1,7% di Bulan Januari
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Beijing - Indeks Harga Konsumen China meleset dari ekspektasi pada Januari dengan 1,7 persen lebih tinggi dari setahun lalu.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan CPI berada di 1,9 persen lebih tinggi dari tahun ke tahun. CPI Desember - ukuran harga barang dan jasa - telah naik 1,9 persen dalam setahun.

CPI mereda karena penurunan harga pangan, tulis Dong Yaxiu, seorang pejabat biro statistik, dalam analisis data seperti mengutip cnbc.com, Jumat (15/2/2019).

Sementara itu data Biro Statistik Nasional, tentang inflasi produsen naik hanya 0,1 persen dari tahun lalu, dibandingkan dengan kenaikan 0,2 persen yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters. Indeks Harga Produsen Desember China - yang mengukur kenaikan harga sebelum mencapai konsumen - telah naik 0,9 persen satu tahun.

Januari menandai bulan ketujuh berturut-turut melambatnya inflasi gerbang pabrik, menurut catatan Reuters.

Angka inflasi di bawah konsensus menunjukkan bahwa permintaan "tetap lamban" pada awal 2019, yang dapat memacu tindakan resmi untuk mendukung perekonomian, tulis Julian Evans-Pritchard, ekonom senior China di Capital Economics.

"Sementara CPI tetap pada tingkat yang nyaman," kata Evans-Pritchard dalam sebuah catatan pada hari Jumat bahwa angka harga produsen yang lemah adalah kekhawatiran karena ini sangat berkorelasi dengan pertumbuhan laba dalam industri.

Dia memperkirakan Beijing akan meluncurkan langkah-langkah, seperti memotong suku bunga pinjaman acuan, untuk mengurangi tekanan keuangan pada perusahaan-perusahaan industri karena inflasi gerbang pabrik terlihat semakin dalam dalam beberapa bulan mendatang.

Namun, harga produsen yang lemah tidak selalu masuk ke dalam CPI karena konsentrasi industri berat di PPI, kata Sian Fenner, seorang ekonom senior di Oxford Economics. Harga minyak yang lemah baru-baru ini membebani PPI.

"Kami masih mengharapkan perbedaan antara keduanya berlanjut," katanya kepada CNBC.

Data datang di tengah putaran baru perundingan AS-China di Beijing minggu ini karena dua negara ekonomi terbesar di dunia memperbaharui upaya untuk mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan perdagangan.

#BursaSaham #Dolar #IHSG #TrumpEffect
BERITA TERKAIT
Sikap Baru Trump Topang Penguatan Wall Street
Wall Street Berpotensi Positif
Bursa Saham Asia Berakhir Variatif
IHSG Berakhir naik 0,4% ke 6.057,35
Sesi I, IHSG Naik 0,3% ke 6.053
Bursa Saham Asia Bergerak Variatif
BEI Aktifkan Lagi Saham PT Express Transindo Utama

kembali ke atas